Berikut adalah Definisi kepuasan
kerja
Menurut Siegel dan Lane (dalam Munandar 2014), kepuasan kerja adalah: “the appraisal
of ones ob as attaining or allowing the attainment of ones important job
values, providing these values are congruent with or help fulfill ones basic
needs.”
Menurut Howell dan Dipboye (dalam Munandar 2014) memandang kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka
atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya.
Dengan kata lain kepuasan kerja mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap
pekerjaannya.
Menurut Sinha (dalam Saiyadain, 2004) mendefinisikan
kepuasan kerja sebagai reintegrasi efek yang dihasilkan oleh persepsi individu
dari pemenuhan kebutuhan dalam kaitannya dengan pekerjaannya dan situasi
sekitarnya.
A. Ciri-ciri Intrinsik Pekerjaan
Menurut
Locke (dalam
Munandar, 2014), ciri-ciri intrinsik dari
pekerjaan yang menentukan kepuasan kerja tersebut ialah:
1. Keragaman keterampilan
Banyak ragam keterampilan yang
di perlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin banyak ragam keterampilan yang
digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan.
2. Jati diri tugas (task identity)
Sejauh mana tugas merupakan
suatu kegiatan ke seluruhan yang berarti. Tugas yang di rasakan sebagai bagian
dari pekerjaan yang lebih besar dan yang di rasakan tidak merupakan satu
kelengkapan tersendiri akan menimbulkan rasa tidak puas. Misalnya, pekerjaan
pada perakitan.
3. Tugas yang penting (task signifinance)
Rasa pentingnya tugas bagi
seorang. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia
cenderung mempunyai kepuasan kerja.
4. Otonomi.
Perkerjaan yang memberikan
kebebasan, ketidakgantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat
menimbulkan kepuasan kerja.
5. Pemberian balikan pada pekerjaan membantu
meningkatkan tingkat kepuasan kerja.
B. Karakteristik
Kepuasan Kerja
Karakteristik
pekerjaan mengajarkan adanya lima unsur yang memengaruhi, yaitu seperti di
bawah ini.
1. Variety
Adalah merupakan tingkatan keadaan dimana pekerjaan memerlukan sejumlah
aktivitas berbeda yang melibatkan sejumlah keterampilan dan bakat yang berbeda.
2. Identity
Adalah tingkatan keadaan di mana pekerjaan memerlukan menyelesaikan
keseluruhan, dapat diidentifikasi,
3. Significance
Adalah tingkatan keadaan dimana pekerjaan mempunyai dampak substantif pada
kehidupan orang lain.
4. Authonomy
Adalah tingkatan keadaan dimana pekerjaan memberikan kebebasan,
kemerdekaan, dan keleluasaan pada individu untuk melakukan pekerjaan.
5. Feedback
Merupakan tingkatan keadaan dimana melakukan aktivitas yang diperlukan oleh
pekerjaan memberikan pekerja informasi yang jelas tentang seberapa baik mereka
melakukan.
C. Dimensi
Survei Kepuasan Kerja
Stephen Robbins mengajukan empat variabel yang mampu mempengaruhi kepuasan
kerja seseorang, yaitu pekerjaan menentang secara mental reward memadai; kerja mendukung; dan kolega mendukung menurut Jex
(dalam Sinambela, 2016)
1.
Pekerjaaan yang menantang secara mental
Pegawai cenderung memiliki pekerjaan yang memeberikan kesempatan mereka
menggunakan keahlian dan kemampuan, serta menawarkan variasi tugas, kebebasan,
dan umpan balik seputar sebaik mana pekerja yang mereka lakukan.pekerjaan yang
kurang menentang cenderung membosankan, sementara pekerja yang terlalu
menentang cenderung membuat frustasi dan rasa gagal. Di bawah kondisi moderat-
menentang, sebagian besar pekerja akan mengalami kesenangan dan kepuasan.
2.
Reward yang Memadai
Kecendrung pekerja dalam menginginkan sistem pengahasilan dan kebijakan
promosi yang diyakini adil, tidak mendua, dan sejalan dengan harapannya. Saat
pekerja menganggap bahwa penghasilan yang diterima setimpal dengan dengan
tuntunan pekerjaannya, tingkat keahlian, dan sama berlaku bagi pekerja lainnya,
lepas akan muncul. Tidak semua pekerja mencari uang, dan sebab itu promosi
merupakan alternatif lain kepuasan kerja. Banyak pula pekerja yang mencari
kewewenangan, promosi pekerbambangan pribadi, dan status sosial.
3.
Kondisi kerja yang mendukung
Perhatian kerja pada lingkungan kerja, baik kenyamanan ataupun fasilitas
yang memungkinkan mereka melakukan pekerja secara baik. Studi-studi membuktikan
bahwa pekerja cenderung tidak memiliki lingkungan kerja yang berbahaya atau
tidak nyaman. Temperatur, cahaya, dan faktor-faktor lingkungan lain tidaklah
terlampau ekstrim. Mereka juga cenderung bekerja di lokasi yang dekat rumah,
menggunakan fasilitas moderen, serta peralatan yang mencukupi.
4.
Kolega yang mendukung
Pekerja selain bekerja juga mencari kehidupan sosial. Tidak mengejutkan
bahwa dukungan rekan kerja mampu meningkatkan kepuasan kerja seorang pekerja.
Prilaku atasan juga sangat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Studi
membuktikan bahwa kepuasan kerja menigkat ketika supervisior dianggap
bersahabat dan mau memahami, melontarkan pujian untuk kinerja bagus,
mendengarka pendapat pekerja, dan menunjukan minat personal terhadap mereka.
Implikasi
Iklim Organisasi terhadap kepuasa Kerja dan Kualita Kehidupan Kerja Karyawan
Iklim organisasi adalah cara untuk mengukur budaya
organisasi, yang dilakukan dengan cara anggota organisasi mempersepsi kondisi
yang dirasakannya, Namun persepsi individu terhadap sesuatu dapat saja berubah
tergantung pada siapa, bagaimana dan kapan mempersepsinya. Iklim organisasi
tidak terjadi dengan sendirinya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi.
Menurut Steers (1990) terdiri dari
kebijakan organisasi yang mana semakin besar otonomi dan kebebasan mengambil
tindakan sendiri oleh pegawainya akan semakin baik iklim kerjanya begitu juga
sebaliknya, karena iklim organisasi yang baik ditunjukkan dengan adanya sikap
keterbukaan, penuh kepercayaan dan tanggungjawab. Selain itu teknologi yang
digunakan dalam organisasi juga mempengaruhi. Faktor yang lain adalah
lingkungan luar organisasi yang secara langsung berkaitan khusus dengan pegawai
misalnya saja krisis moneter yang terjadi di Indonesia yang mengharuskan
perusahaan mem-PHK karyawannya. Terakhir yakni kebijakan dan praktek manajemen
yang dilakukan organisasi. Sedangkan menurut Mondy faktor yang mempengaruhi
iklim organisasi terdiri dari kelompok kerja, pengawasan manager, karakteristik
organisasi, dan proses administrasi. Dalam tulisannya Robbins juga menjelaskan
bahwa faktor yang mempengaruhi terdiri dari individual initiatve, risk
tolerance, integration, managemen support, control, identity, reward, conflict
tolerance, dan communication patterrus.
Kepuasan kerja merupakan sikap yang
ada melalui penilaian terhadap situasi ditempat kerja. Bagi mereka yang
menganggap bekerja itu menyenangkan dan selalu berfikiran positif, maka dengan
sendirinya akan tercipta rasa nyaman dan nikmat dalam bekerja.
Perasaan-perasaan yang seperti itu yang akhirnya menimbulkan perasaan puas
dalam bekerja dan pada akhirnya menghasilkan kualitas kehidupan kerja yang
baik. Sebaliknya, bagi mereka yang menganggap bekerja itu membosankan, banyak
tugas dan lain sebagainya yang selalu berfikiran negative maka, rasa bosan itu
sendiri akan muncul ketika bekerja, menurunnya gairah untuk bekerja. Jika sudah
demikian, yang terjadi adalah produktifitas kerja akan menurun dan akhirnya
kualitas kehidupan kerja yang baik tidak bisa tercapai dengan sempurna. Tetapi
cara mengukur kepuasan kerja tersebut tergantung kepada siapa dan kapan hal
tersebut dilakukan. Kualitas kehidupam kerja karyawan (QWL), merupakan suatu
hal yang merujuk pada tingkat individu dapat memenuhi kebutuhan diri yang
terpenting ketika bekerja di perusahaan (Bernadine & Russel 1998).
Faktor negatif dari kualitas
kehidupan kerja adalah kehilangan semangat kerja dan tingkat kebosanan (Jewell
& Siegell, 1990). Kehilangan semangat kerja merupakan masalah yang
berkembang dalam dunia bisnis di manapun. Menurut Smith (1953) salah satu ciri
kebosanan adalah melamun ditempat kerja, namun menurut Geiwith (1966) faktor
yang terkait dengan kebosanan adalah pembatasan, ketidaknyamanan, tugas kerja
rutin, dan lingkungan kerja. Umstot (1990) memaknai kehilangan semangat kerja
merupakan suatu kondisi mental, emosional dan kelelahan fisik yang dihasilkan
dari bekerja dengan orang dan organisasi yang komplek melebihi rentang waktu
yang ada. Lebih anjut di ungkap Umstot bahwa kehilangan semangat kerja ini
terjadi karena tekanan kronis setiap hari dibanding satu kejadian kritis
tertentu. Kelelahan dapat terjadi pada setiap jenis pekerjaan dan biasanya
terjadi pada profesi utama.
Menurut Umstot ada lima kriteria yang bisa
dijadikan acuan baik tidaknya QWL yakni ;
(1) kepuasan dan keadilan kompensasi yang mana akan mempengaruhi kualitas kehidupan kerja dan kualitas hidup,
(2) peluang untuk menggunakan dan mengembangkan potensi karyawan, karena pada dasarnya setiap karyawan menginginkan untuk dapat menggunakan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki serta mempelajari hal-hal baru,
(3) integrasi sosial ditempat kerja, hubungan interpersonal dan hubungan kelompok sangatlah penting, karyawan membutuhkan rasa memiliki untuk memenuhi kebutuhan social mereka.
(4) konstitualisme di tempat kerja, terkait dengan hak-hak pekerja seperti privacy, proses pembayaran, kesamaan, dan kebebasan berbicara serta penghargaan atas hak individual.
(5) hubungan pekerja dengan kehidupan.
(1) kepuasan dan keadilan kompensasi yang mana akan mempengaruhi kualitas kehidupan kerja dan kualitas hidup,
(2) peluang untuk menggunakan dan mengembangkan potensi karyawan, karena pada dasarnya setiap karyawan menginginkan untuk dapat menggunakan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki serta mempelajari hal-hal baru,
(3) integrasi sosial ditempat kerja, hubungan interpersonal dan hubungan kelompok sangatlah penting, karyawan membutuhkan rasa memiliki untuk memenuhi kebutuhan social mereka.
(4) konstitualisme di tempat kerja, terkait dengan hak-hak pekerja seperti privacy, proses pembayaran, kesamaan, dan kebebasan berbicara serta penghargaan atas hak individual.
(5) hubungan pekerja dengan kehidupan.
Kesimpulannya adalah iklim
organisasi itu sendiri lebih menjurus pada persepsi pegawai ataupun karyawan
tentang kondisi organisasinya. Kondisi tersebut berupa kondisi fisik seperti
suhu di tempat kerja, penerangan di tempat kerja, kebisingan di tempat kerja,
dan arsitektur tempat kerja, sedangkan kondisi non fisik berupa distribusi jam
kerja (Jewell & Siegell, 1989). Iklim organisasi sebagai kondisi yang
dipersepsikan oleh karyawan, dan itu artinya persepsi individu karyawan yang
satu akan berbeda dengan individu lainnya. Satu kondisi yang dirasakan begitu
kondusif dan nyaman oleh seorang karyawan, mungkin saja tidak begitu bagi
karyawan lainnya. Perbedaan cara mempersepsikan ini sendiri akan memberi
pengaruh yang berbeda pada kepuasan kerja yang berbeda pada individu yang
berbeda, yang selanjutnya kondisi tersebut akan menjadikan kualitas kehidupan
kerja yang berbeda.
Menurut analisis saya, kenyamanan
bekerja menjadi tujuan utama dalam proses peningkatan kondisi lingkungan kerja,
sebab dari sini akan memunculkan rasa puas dalam bekerja dan kualitas kerja
yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas kehidupan kerja. Iklim organisasi
yang merupakan persepsi individu karyawan tentang organisasinya akan memberi
pengaruh pada nyaman tidaknya pegawai bekerja di organisasi atau perusahaan
tersebut. Karena kenyamanan bekerja merupakan syarat utama untuk dapat tercipta
suasana kepuasan kerja karyawan, kualitas kehidupan kerja. Untuk itu
peningkatan kepuasan kerja karyawan dan kualitas kehidupan kerja karyawan dapat
dicapai dengan memperbaiki iklim organisasi.
daftar pustaka :
https://rofifahmalihah.wordpress.com/2016/01/13/analisis-jurnal-kepuasan-kerja/
Munandar, A.S.(2014). Psikologi indrustri dan organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia(UI-Press)
Sinambela,P.L.(2016). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta : Sinar Grafika Offset
Tidak ada komentar:
Posting Komentar