1.
Logoterapi frankl
Konsep Dasar Pandangan Frankl tentang
Perilaku / Kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis
menekankan pentingnyakemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di
dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat manusia
harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba
untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan
itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah
prinsip utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep
dasar, yakni
A. Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan
logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan.
Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
·
Kebebasan yang bertanggungjawab.
·
Kebebasan untuk mengambil sikap (freedom
to take a stand) atas kondisi- kondisi tersebut
·
Kebebasan untuk menentukan sendiri apa
yang dianggap penting dalam hidupnya.
B. Kehendak Hidup Bermakna (The
Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning)
inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977). Dalam
psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan psikologi
individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa
kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan
prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut Frankl bersifat menarik
dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu
termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu yang bermakna,
maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.
C. Makna Hidup (The Meaning Of
Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman
hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup
dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu
dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang
penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada
suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk
menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa
digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas
yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
Unsur- unsur logoterapi
1.
Munculnya Gangguan
a. Neurosis somatogenik, yaitu gangguan
perasaan yang berkaitan dengan ragawi
b. Neurosis psikogenik, yaitu gangguan
perasaan yang berasal dari hambatan-hambatan psikis
c. Neurosis noogenik, yaitu gangguan
neurosis yang disebabkan tidak terpenuhinya hasrat untuk hidup bermakna
2.
Tujuan Terapi
Tujuan utama logoterapi adalah meraih
hidup bermakna dan mampu mengatasi secara efektif berbagai kendala dan hambatan
pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan memahami serta
merealisasikan berbagai potensi sumber daya kerohanian yang dimiliki setiap
orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan.
Selain itu, logoterapi juga bertujuan
untuk menolong pasien menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan
memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu.
3.
Peran Terapis
a.
Terapis harus menunjukkan kepada klien bahwa setiap manusia mempunyai tujuan
yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu.
b.
Terapis berusaha membuat klien menyadari secara penuh tanggung jawab dirinya
dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, kepada apa, atau kepada
siapa dia harus bertanggung jawab.
c.
Terapis tidak tergoda untuk menghakimi klien-kliennya, karena dia tidak pernah
membiarkan seorang klien melemparkan tanggung jawab kepada terapis untuk
menghakiminya.
Teknik Teknik Logoteraphy
1.
Teknik
Intensi Paradoksikal (Perlawanan Terhadap Niat)
Teknik
ini didasarkan pada dua fakta, yaitu (1) rasa takut bisa menyebabkan terjadinya
hal yang ditakutkan (2) keinginan yang berlebihan bisa membuat keingginan
tersebut tidak terlaksana.
Dalam
kasus-kasus fobia, teknik ini berusaha mengubah sikap penderita yang semula
serba takut menjadi akrab dengan objek yang justru ditakutinya. Sedangkan pada
kasus-kasus obsesi dan kompulsi, yang biasanya penderita menahan dan
mengendalikan secara ketat dorongan-dorongan agar tidak muncul, penderita
justru diminta untuk secara sengaja mengharapkan agar dorongan-dorongan itu
benar-benar mencetus.
Intensi
paradoksikal juga dapat diterapkan kepada penderita insomnia. Rasa takut tidak
bisa tidur memicu keinginan berlebihan untuk tidur, yang malah membuat pasien
malah tidak bisa tidur. Untuk mengatasi ketakutan ini, biasanya Frankl
menganjurkan si pasien untuk mencoba tidak tidur, tetapi melakukan yang
sebaliknya, artinya berusaha sebisa mungkin untuk tetap bangun. Dengan kata
lain, keinginan yang sangat besar untuk tidur yang muncul akibat rasa cemas
yang diantisipasi bahwa dia tidak bisa tidur, harus diganti dengan keinginan
sebaliknya untuk tidak tidur, akibatnya si pasien akan segera tertidur.
Selain
itu, teknik ini mempunyai keterbatasan yang perlu diperhatikan, yakni mempunyai
kontra indikasi dengan depresi, terutama kasus depresi dengan kecenderungan
bunuh diri. Maksudnya, bila teknik ini diterapkan pada kasus depresi dengan
keinginan bunuh diri, maka kemungkinan besar justru akan mendorong penderita
untuk benar-benar melakukan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, jangan
sekali-kali menerapkan teknik ini untuk kasus depresi.
2.
Derefleksi
Seperti
halnya intensi paradoksikal, teknik derefleksi pun memanfaatkan
kualitas-kualitas insani dalam gangguan neurosis. Bedanya, jika intensi
paradoksikal memanfaatkan kemampuan mengambil jarak terhadap diri sendiri dan
seakan-akan memandangnya dari luar, maka derefleksi memanfaatkan kemampuan
transedensi diri yang ada dalam diri setiap orang.
Frankl
kemudian mengatakan bahwa refleksi berlebihan bisa diatasi dengan teknik
derefleksi. Sebab, jika intensi paradoksikal dirancang untuk mengatasi
kecemasan antisipatori, derefleksi dirancang untuk bisa mengatasi kompulsi
kepada observasi diri atau pemaksaan ke arah pengamatan diri sendiri. Dengan
demikian, jika intensi paradoksikal menggunakan pola right passivity,
derefleksi menggunakan pola right activity.
3.
Bimbingan Rohani
Bimbingan
rohani merupakan salah satu teknik logoterapi yang mula-mula banyak diterapkan
dalam dunia medis, khusunya untuk kasus-kasus somatogenik. Tetapi dalam
perkembangan selanjutnya, prinsip-prinsip ini diamalkan juga oleh profesi lain
dalam kasus-kasus tragis non-medis yang tak dapat dihindari lagi. Pendekatan
ini memanfaatkan kemampuan insani untuk mengambil sikap terhadap keadaan diri
sendiri dan keadaan lingkungan yang tak mungkin diubah lagi.
Bimbingan
rohani kiranya dapat dilihat sebagai ciri paling menonjol dari logoterapi
sebagai psikoterapi berwawasan spiritual. Sebab, bimbingan rohani merupakan
metode yang secara eksklusif diarahkan pada unsur rohani atau roh, dengan
sasaran penemuan makna oleh individu atau klien melalui realisasi nilai-nilai
bersikap. Jelasnya, bimbingan rohani merupakan metode yang khusus digunakan
pada penangan kasus dimana individu dalam penderitaan karena penyakit yang
tidak bisa disembuhkan atau nasib buruk yang tidak mampu lagi untuk berbuat
selain menghadapi penderitaan itu.
Melalui
bimbingan rohani, individu yang menderita didorong ke arah merealisasi
nilai-nilai bersikap, menunjukkan sikap positif terhadap penderitaannya,
sehingga ia bisa menemukan makna dibalik penderitaannya.
4.
Existential Analysis
Teknik ini sangat luas dan luwes, serta
memberikan keleluasaan kepada para logoterapis untuk secara kreatif
mengembangkan sendiri metode dan teknik-tekniknya.
2. Rasional Emotive Teory
Konsep Dasar Konseling Rasional Emotif
(RET)
Manusia
pada dasar dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir
rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia
akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku
irasional individu itu menjadi tidak efektif.
Reaksi
emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan
filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau
emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi
menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan
irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang
diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara
irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang
tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat
menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta
penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang
dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang
rasional.
Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu,
yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka
pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent
event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang
lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi
calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief
(B) yaitukeyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap
suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang
rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional
(irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau
system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi
prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system
berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak
produktif.
Emotional
consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya
dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung
dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan
(B) baik yang rB maupun yang iB.
Unsur terapi
Gangguan-gangguan
emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi
sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh
karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan
tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Emosi-emosi
adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka
kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan
bahwa “gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti
yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara
dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau
bertindak sampai ia sendiri kalah”.
TRE
berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi
korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari
gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan
autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam
tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus
menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan
diri.
Teknik Konseling Rasional Emotif (RET)
Pendekatan
konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik
dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1.
Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a.
Assertive adaptive
Teknik
yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara
terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.
Bermain peran
Teknik
untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan
negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien
dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c.
Imitasi
Teknik
untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan
maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
2.
Teknik-teknik Behavioristik
a.
Reinforcement
Teknik
untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan
jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini
dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada
klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif.
Dengan
memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan
sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b.
Social modeling
Teknik
untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan
agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara
imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan
menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah
tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3.
Teknik-teknik Kognitif
a.
Home work assigments,
Teknik
yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan
diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah
laku yang diharapkan.
Dengan
tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau
menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak
logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah
aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan
konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan
konselor, Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap
tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan
diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
b.
Latihan assertive
Teknik
untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku
tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru
model-model sosial.
Maksud
utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien
mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya; (b)
membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa
menolak atau memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong klien untuk
meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan
untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
3. Terapi
Kelompok
Konsep Terapi Kelompok
Kelompok
adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang
lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang sama. Kelompok
terapeutik memberi kesempatan untuk saling bertukar (sharing) tujuan, misalnya
membantu individu yang berperilaku destruktif dalam berhubungan dengan orang
lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif untuk membantu merubah
perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Menurut
Yosep (2007), terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan
sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang
dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapis atau petugas kesehatan jiwa yang
telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara
kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal.
Terapi
kelompok mirip dengan masalah-masalah yang ditangani oleh terapi individu
seperti konseling. Yang membedakan dengan terapi individu adalah pendekatannya.
Terapi kelompok tidak menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan,
melainkan menggunakan kelompok sebagai media penyembuhan. Individu-individu
yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan
kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh terapis. Oleh
karena itu perlu diperhatikan mengenai komponen kelompok dalam terapi kelompok.
Dalam Sari (2015) menyebutkan komponen tersebut antara lain:
a. Struktur kelompok
Stuktur
kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan
hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan
membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam elompok diatur
dengan adanya pimpinan dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin,
sedangkan keputusan diambil secara bersama.
b. Besar kelompok
Menurut
Wartono (dalam Yosep, 2007), jumlah ideal anggota kelompok adalah tujuh sampai
delapan orang. Jumlah minimum angota kelompok berkisar empat dan jumlah
maksimun adalah sepuluh orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya
tidka semua anggota kelompok memndapatkan kesempatan mengungkapkan perasaan,
mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika terlalu kecil makan tidak cukup
variasi informasi dan intreaksi yang terjadi.
c. Lamanya sesi
Waktu
optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit untuk fungsi terapi reandah, dan
60-120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Frekuensi pertemuan dapat
disesuaian dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu
atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
d. Komunikasi
Salah
satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan
mengalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik
untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang
trejadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik
interpersonal, tingkat kompetis, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti
serta melaksanakan kegiatan.
e. Peran kelompok
Pemimpin
(leader) harus memiliki kemammpuan dalam proses yang terjadi pada kelompok,
seperti adanya interupsi, peningkatan intonasi suara, sikap menghakimi antara
anggota kelompok selama interaksi berlangsung. Dengan kata lian, pemimpin harus
peka terhadap adanya konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok.
f. Kekuatan kelompok
Kekeuatan
kelompok adalah kemampuan anggota dalam memmpengaruhi jalannya kegiatan
kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian
siapa yang paling banyak mendengar siapa yang membuat keputusan dalam kelompok.
g. Norma
Norma
adalah standar perilaku dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok
pada masa yang akan datang berdasarkan pada pengalaman masa lalu dan saat ini.
Pemahaman tentang norma berguna untuk mngetahui pengaruhnya terhadap komunikasi
dan interaksi dalam kelompok.
h. Kekohesifan
Kekohesifan
adalah kekuatan antar anggota kelompok bekerjasama dalam mencapai tujuan. Hal
ini mempengaruhi naggota kelompok untuk tertarik dan puas terhadap kelompoknya.
Terapis perlu melakuakn upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, selain
mengelompokan anggota yang memiliki masalah yang sama. Terapis juga menciptakan
kekohesifan dengan cara mendorong kelompok untuk berbicara satu sama lain.
Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota memberi pujian
dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain.
Unsur-unsur Terapi Kelompok
Unsur-unsur
terapi: munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis.
a. Munculnya gangguan
Terapi kelompok
digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
b. Tujuan
terapi
- Meningkatkan identitas diri
- Menyalurkan emosi dna membagi perasaan
antar sesama didalam kelompok terapis
- Meningkatkan keterampilan
hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup
mandiri
c. Peran
terapis
Terapis harus memainkan peranan yang
aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.
Teknik Terapi Kelompok
Ada
beberapa bentuk khusus terapi kelompok, antara lain :
a. Psikodrama
Psikodrama
merupakan suatu bentuk terapi kelompok, yang dikembangkan oleh J.L. Moreno pada
tahun 1946, dimana pasien didorong untuk memainkan suatu peran emosional di
depan para penonton tanpa dia sendiri dilatih sebelumnya. Tujuan dari
psikodrama ini adalah membantu seorang pasien atau kelompok pasien untuk
mengatasi masalah-masalah pribadi dengan menggunakan permainan drama, peran,
atau terapi tindakan. Lewat cara-cara ini pasien dibantu untuk mengungkapkan
perasaan-perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah, dan
kesedihan. Sama dengan Freud, Moreno melihat emosi-emosi yang terpendam dapat
dibongkar (kompleks-kompleks emosional dihilangkan dengan membawanya ke
kesadaran, dan membuat energi emosional diungkapkan/katarsis).
Metode
psikodrama yang sangat Penting. Seperti yang dikembangkan dan dipraktekkan oleh
Moreno, psikodrama menggunakan tempat yang menyerupai panggung. Hal ini
bertujuan supaya pasien memainkan peran di alam khayal, dengan demikian ia
merasa bebas mengungkapkan sikap-sikap yang terpendam dan motivasi-motivasi
yang kuat. Ketika peran dimainkan, implikasi-implikasi realistic dan tingkah
lakunya yang dramatis menjadi jelas. Keterampilan terampis dalam mengenal dan
menafsirkan dinamika yang diungkapkan memudahkan proses terapi. Ada tiga tahap
yang penting dalam psikodrama:
1) Tahap pelaksanaan, dimana subjek
memerankan khayalan-khayalannya.
2) Tahap penggantian, dimana orang-orang
yang sebenarnya menggantikan orang-orang yang dikhayalkan subjek.
3) Tahap penjernihan, dimana diadakan
pengalihan dari kontak individu-individu pengganti ke kontak dengan
individu-individu di mana subjek memiliki kesempatan menyesuaikan diri dengan
mereka dalam kehidupan yang nyata.
Sebaliknya,
Whittaker memberikan suatu gambaran singkat tentang bagaimana sebaiknya
psikodrama itu dilaksanakan. Dia mengemukakan bahwa psikodrama menggunakan 4
instrument utama, yaitu:
1) Panggung, yang merupakan ruang
kehidupan psikologis dan fisik bagi subjek atau pasien.
2) Sutradara atau pekerja.
3) Staf dari ego-ego penolong (auxiliary
ego) atau penolong-penolong teraupetik.
4) Para penonton.
Ego-ego
penolong maupun para penonton terdiri dari anggota-anggota kelompok lain.
Strateginya adalah memberi kemungkinan kepada subjek untuk memproyeksikan
dirinya kedalam dunianya sendiri dan membangkitkan respon-respon dari
kawan-kawan anggota kelompoknya sendiri. Selanjutnya, Whittaker mengemukakan 4
teknik yang bisa digunakan, yaitu:
1) Presentasi diri. Pasien
mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang figur yang penting dalam
kehidupannya.
2) Memimpin percakapan sendiri. Pasien
melangkah keluar dari drama dan berbicara pada dirinya sendiri dan kepada
kelompoknya.
3) Teknik ganda. Seorangg ego penolong
berperan bersama dengan pasien dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan
pasien pada waktu yang sama.
4) Teknik cermin. Seorang ego penolong
berperan sejelas mungkin menggantikan pasien. Dari para penonton, pasien
memperhatikan bagaimana dia melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang
lain melihatnya.
Sutradara
atau pekerja berfungi baik sebagai produser maupun sebagai terapis. Sebagai
produser, ia memilih dan mengatur adegan-adegan yang juga memimpin tindakan
(perbuatan) psikodramatis. Adegan-adegan dipilih berdasarkan situasi-situasi
yang mengandung muatan emosional bagi pasien atau berdasarkan situasi-situasi
dimana pasien bertingkahlaku tidak tepat atau tidak efektif dalam
situasi-situasi seperti itu. Sebagai terapi, pekerja (sutradara) memberikan
dukungan atau klarifikasi kepada para actor, dan kadang-kadang memberikan
penafsiran (sering dengan bantuan para anggota kelompok lain) tentang adegan
permainan itu.
Belakangan
ini psikodrama dilakukan oleh orang-orang yang mempraktekkan bermacam-macam
teori psikoterapi. Khususnya, para terapis Gestalt menggunakan psikodrama
secara luas. Psikodrama juga digunakan dalam terapi perkawinan, dalam terapi
anak-anak, penyalahgunana-penyalahgunaan obat bius dan alcohol, orang-orang
yang mengalami masalah-masalah emosional, di lingkungan penjara, untuk melatih
para psikiater dirumah sakit, untuk melatih orang-orang yang cacat, di
perusahaan dan industri, dan dalam pendidikan serta dalam mengambil keputusan.
Kegunaan
psikodrama adalah dengan mendramatisir konflik-konflik batinnya, pasien dapat
merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman (insight) baru yang
memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang nyata.
b. Role playing (bermain peran)
Memainkan
peran adalah suatu variasi dari psikodrama yang tidak menggunakan alat-alat
sandiwara (drama). Taknik ini banyak digunakan untuk mendorong pasien berbicara
dan mengembangkan persepsi-persepsi baru dalam berbagai situasi kelompok,
misalnya diruang kelas, program-program hubungan manusia dalam bidang usaha dan
industri, dan pertemuan-pertemuan latihan (training)
c. Encounter groups
Encounter
groups adalah bentuk-bentuk khusus dari terapi kelompok yang muncul dari
gerakan humanistik pada tahun 1960-an. Encounter groups bertujuan untuk
membantu mengembangkan kesadaran diri dengan berfokus pada bagaimana para
anggota kelompok berhubungan satu sama lainalam suatu situasi diaman di dorong
untuk mengungkapkan perasaan secara terus terang. Encounter groups tidak
berlaku bagi orang yang mengalami masalah-masalah psikologis yang berat, tetapi
hanya ditujukan kepada orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, berusaha
memajukan pertumbuhan pribadi, meningkatkan kesadaran mengenai
kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan mereka sendiri serta cara-cara mereka
berhubungan dengan orang lain. Encounter groups berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan
ini melalui pertemuan-pertemuan yang intensif atau konfrontasi-konfrontasi
langsung dengan orang-orang baru. Beberapa kelompok dibentuk sebagai
kelompok-kelompok marathon yang mungkin berlangsung terus-menerus selama 12 jam
atau lebih. Karena bertolak dari pendekatan humanistik, encounter groups,
menekankan interaksi-interaksi yang terjadi ditempat ini dan kini. Fokus dari
encounter groups adalah mengungkapkan perasaan-perasaan yang asli dan bukan
menafsirkan atau membicarakan masa lampau. Apabila seorang anggota kelompok
dipersepsikan oleh orang lain bersembunyi di belakang kedok atau topeng sosial,
maka orang lain berusaha sedemikian rupa supaya orang tersebut membuka kedok
itu, dan dengan demikian mendorong orang itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya
yang sebenarnya.
Teknik
konfrontasi ini dapat merusak bila para anggota kelompok memaksa mengungkapkan
dengan terlalu cepat perasaan-perasaan pribadi orang itu yang belum mampu
ditanganinya atau bila orang itu merasa diserang atau dikambinghitamkan oleh
orang lain dalam kelompok. Para pemimpin kelompok yang bertanggungjawab tetap
berusaha mengendalikan kelompok itu untuk mencegah penyalahgunaan tersebut dan
mempertahankan kelompok itu bergerak kearah yang memudahkan pertumbuhan pribadi
dan kesadaran diri.
4. Terapi Perilaku
Konsep Dasar Terapi Perilaku
Selama
masa perkembangannya sampai saat ini, terdapat tiga perubahan besar dalam
penerapan terapi perilaku, yaitu :
A.
Terapi
perilaku yang fokus pada memodifikasi perilaku-perilaku tampak (overt
behavior), yakni yang didasarkan pada prinsip dan prosedur clasical dan operant
conditioning. Terdapat dua pendekatan yang terkenal yakni :
1) applied behavior analysis (Skinner)
Pada pendekatan ini asumsi yang
digunakan adalah perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi (behavior is a
function of its consequences). Prosedur yang digunakan berupa pemberian
reinforcement, punishment, extinction dan stimulus control.
2) Neobehavioristic
mediational stimulus response (Mowrer
& Miller). Merupakan aplikasi dari konsep clasical conditioning. Pada
pendekatan ini mulai disadari bahwa proses mental mempunyai pengaruh terhadap
hukum belajar yang kemudian membentuk suatu perilaku. Model pendekatan Stimulus
Respon menggunakan proses mediasional. Teknik-teknik yang digunakan berupa
systematic desensitization dan flooding.
B.
Gerakan ke
dua ialah Social-Cognitive theory yang diprakarsai oleh Bandura (1986). Ada 3
faktor yang terpisah namun saling membentuk sistem interaksi satu sama lainnya,
yang berupa lingkungan (external stimulus event)s, penguatan (external
reinforcement), dan proses kognitif (cognitive mediational processes).
Social-Cognitive Theory beranggapan bahwa ketiga elemen terseut saling
mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, dalam prosedur treatment yang
menjadi fokus adalah individu itu sendiri sebagai agent of change. Aplikasi
dari teori ini adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT).
C.
Gerakan
ketiga dalam perkembangan terapi perilaku didasari oleh argumentasi Hayes
(2004) yang mulai menggunakan konsep penerimaan (acceptance) yg merupakan
proses aktif dari self-affirmation, menerima bukan berarti menyerah melainkan
keberanian untuk mengalami/merasakan pikiran perasaan negatif. Terdapat dua
bentuk terapi perilaku yang menggunakan konsep acceptance, yakni :
1. Dialectical Behaviora Therapy (DBT)
Terdapat dua konsep penting dalam
penerapan DBT, yakni Acceptance and change dan Mindfullness. Untuk mencapai
kondisi mindfullness dibutuhkan beberapa kemampuan yang harus dikuasai, yakni :
a. Mengamati serta memperhatikan emosi
yang dirasakan tanpa mencoba untuk menghentikan walaupun terasa sangat
menyakitkan.
b. Mencoba untuk menjelaskan dan
menjabarkan pikiran serta perasaan yang sedang dirasakan.
c. Jangan langsung menghakimi atas pikiran
dan perasaan yang sedang dialami, tapi coba untuk mengidentifikasi dan memahami
apa yang menjadi penyebab hal tersebut.
d. Stay in the present.
e. Fokus pada satu hal (one mindfully).
2. Acceptance and Commitment Therapy
(ACT).
Sedangkan dalam Acceptance and
Commitment Therapy mengkombinasikan prinsip-prinsip behaviorisme Skinner dengan
faktor bahasa dan kognitif serta bagaimana ketiga faktor tersebut berpengaruh
dalam psikopatologi. Terdapat empat konsep utama yakni:
a. Experiential avoidance. Mengacu pada
proses mencoba untuk menghindari pengalaman pribadi negatif atau menyedihkan,
b. Acceptance. ACT dirancang untuk
membantu klien belajar bahwa menghindari pengalaman adalah bukan solusi.
c. Cognitive Defusion. Konsep ini mengacu
memisahkan pikiran dari orang lain yang dan apa yang kita pikirkan.
d. Commitment. ACT berfokus pada tindakan.
Unsur
Usur terapi
1)
Munculnya Gangguan
Terapi behavior adalah salah satu
teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh
dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang
dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih
efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih
efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.
2)
Tujuan Terapi
Terapi behavioral memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku
spesifik atau perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan
kondisi-kondisi baru bagi proses belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah
laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif.
3)
Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan
peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para
kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan
ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan
prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang
baru dan adjustive.
TeKnik
Terapi
1. Mencari stimulus yang memicu gejala
gejala
2. Menaksir/analisa kaitan kaitan
bagaimana gejala gejala menyebabkan perubahan tingkah laku klien dari keadaan
normal sebelumnya.
3. Meminta klien membayangkan sejelas
jelasnya dan menjabarkannya tanpa disertai celaan atau judgement oleh terapis.
4. Bergerak mendekati pada ketakutakan
yang paling ditakuti yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk
membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan
5. Ulangi lagi prosedur di atas sampai
kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.
Sumber
:
-Komalasari, Gantina. Teori dan Teknik
Konseling. 2011. Jakarta : Indeks
-Semiun, Y.
(2006). Kesehatan Mental 3. Ebook. Yogyakarta: Kanisius
-Puspasari, D.,
& Alfian, I.N. (2012). Makna Hidup Penyandang Cacat Fisik Postnatal Karena
Kecelakaan. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental , 1(03)
-Suhesti.2012.BagaimanaKonselorSekolah Bersikap?.Yogyakarta:Pustaka
Pelajar
-Corey Gerald.2007.Teori dan Paktek
Konseling & Psikoterapi.Bandung: PT Refika Aditama
-Hayat,Abdul.2010.TeoridanTeknikPendekatanKonseling.Banjarmasin:Lanting
Media Aksara