Selasa, 22 November 2016

A.      Pengertian Job Enrichment
Job enrichment adalah penambahan pekerjaan untuk memotivasi karyawan, karena jabatan perlu diperkaya sehingga memberi kesempatan untuk mendapatkan prestasi, pengakuan, tanggung jawab, kemajuan, dan juga pertumbuhan.

B.  Langkah-Langkah dalam Redesign Pekerjaan Untuk Job Enrichment

1.      Menggabungkan beberapa pekerjaan menjadi satu.
2.      Memberikan modul kerja untuk setiap pekerja.
3.      Memberikan kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab.
4.      Memberikan kesempatan pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung.
5.      Menciptakan sarana – sarana umpan balik.

C.  Pertimbangan-Pertimbangan Dalam Job Enrichment

1.    Jika pekerjaan terspesialisir dan sederhana dirancang kembali untuk memotivasi secara intrinsik pada pekerja, maka kualitas pelaksanaan kerja pekerja akan meningkat.
2.    Absensi – absensi dan perpindahan kerja akan berkurang.
3.    Dimensi inti yang berkaitan dengan motivasi intrinsik & lapangan kerja  (Hackman dan Oldham ), yaitu:

a.       Keragaman ketrampilan (skill variety)

Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan. Misalnya, seorang salesman diminta untuk memikirkan dan menggunakan cara menjual yang berbeda, display (etalase) yang berbeda, cara yang lebih baik untuk melakukan pencatatan penjualan.

b.      Jati diri tugas (task identity)

Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang. Tugas yang dirasakan sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas. Misalnya, seorang salesman diminta untuk membuat catatan tentang penjualan dan konsumen, kemudian mempunyai dan mengatur display sendiri.

c.       Tugas yang penting (task significance)

Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja. Misalnya, sebuah perusahaan alat-alat rumah tangga ingin mengeluarkan produk panci baru. Para karyawan diberikan tugas untuk mencari kriteria seperti apa panci yang sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu masa kini. (tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi karyawan karena hasil kerjanya nanti secara langsung akan memberi manfaat kepada pelanggan)

d.      Otonomi

Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja. Misalnya, seorang manager mempercayai salah satu karyawan untuk memperebutkan tender dari klien. Karyawan tersebut menggunakan ide dan caranya sendiri untuk menarik perhatian klien . Karyawan diberi kebebasan untuk mengatur sendiri waktu kerja dan waktu istirahat.

e.       Umpan balik (feed back)

Memberikan informasi kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan sehingga para pekerja dapat segera memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan. Misalnya, dalam menjual produk salesman didorong untuk mencari sendiri informasi, baik dari atasan maupun dari bagianbagian lain, mengenai segala hal yang berkaitan dengan jabatannya serta meminta pendapat konsumen tentang barangbarang yang dijual, pelayanan, dll. Jadi kondisi psikologis kritis karyawan yang muncul karena adanya dimensi utama dalam tugas akan mempengaruhi hasil kerja karyawan yang telah termotivasi secara internal. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam job enrichment tergantung oleh kekuatan kayawan untuk berkembang dan berpikir positif.



Contoh langkah-langkah....
Menggabungkan beberapa pekerjaan menjadi satu................
Contoh mudahnya : Seseorang yang bekerja sebagai pengantar roti ke warung warung, dia sudah mendapatkan beberapa alamat untuk mengantar roti-roti tersebut dari bos, tetapi alamat yang di berikan dari bosnya tidak satu arah yang berarti mau tidak mau dia harus mengantarkan bolak balik roti tersebut dari warung A ke warung D dan selanjutnya, tentunya hal ini akan memakan banyak sekali waktu yang terbuang, maka dari itu seorang pengantar roti tersebut jangan terlalu berpatok pada alamat yang di berikan bos , melainkan ia harus lebih kreatif misalnya dia mengambil sekaligus dan di antarkan roti roti tersebut dengan alamat yang berurutan dari yang paling jauh sampai yang paling dekat sehingga lebih efisien dan tidak memakan waktu.

Memberikan modul kerja pada setiap pekerja ...............
Contoh mudahnya : kalau misalkan di suatu perusahaan pasti ada ADART (peraturan atau landasan yang di buat untuk kemajuan perusahaan), jadi dalam ADART terdapat modul kerja pada setiap pekerja agar tidak melenceng dari pekerjaan tersebut. Setiap pekerja yang sudah masuk ke perusahaan tsb pasti di berikan modul kerja supaya pekerja tsb tau apa yang harus di lakukan.

Sumber :

Tahir, Arifin. (2014). Buku Ajar perilaku Organisasi.Yogyakarta:DEEFPUBLISH

Sunyoto Munandar, Ashar.(2001).Psikologi Industri dan Organisasi.Jakarta: Universitas Indonesia.


Sabtu, 05 November 2016

teori motivasi penguatan, harapan, tujuan, dan juga hirarki kebutuhan maslow

1.)           Jelaskan mengenai teori motivasi Reinforcement (penguatan) & jelaskan implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi!
Penguatan adalah segala sesuatu yang digunakan seorang pimpinan untuk meningkatkan  atau  mempertahankan  tanggapan  khusus  individu.  Ada dua jenis penguatan, yaitu:
              a.)     positive reinforcement (penguatan positif), yaitu penguatan yang dilakukan ke arah kinerja                  yang positif. implikasinya, karyawan bekerja dengan sungguh-sungguh dan dengan sebaik                   baiknya supaya mendapatkan reward.
               b.)     negative reinforcement (penguatan negatif), yaitu penguatan yang dilakukan karena                             mengurangi atau menghentikan keadaan yang tidak disukai. Implikasinya,karyawan                             berupaya cepat-cepat menyelesaikan  pekerjaan karena tidak   tahan   mendengar   atasan                      mengomel  terus-menerus.

2.)           Jelaskan mengenai teori motivasi Harapan & jelaskan implikasi praktis dari teori Harapan dalam perilaku organisasi!
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Dan begitu juga sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Implikasi dalam teori ini adalah saat seorang karwayan sudah bekerja di jam-jam yang melebihi jam kerjanya selama berhari hari kemudian seorang karyawan menginginkan upah yang lebih dari hasil pekerjaannya kemudian kantor memberikan upah lebih dari hasil pekerjaannya.


3.)           Jelaskan mengenai teori motivasi Tujuan & jelaskan implikasi praktis dari teori Tujuan dalam perilaku organisasi
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
a.)           tujuan-tujuan mengarahkan perhatian.
b.)           tujuan-tujuan mengatur upaya.
c.)           tujuan-tujuan meningkatkan persistensi
d.)          tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
Hal ini menjelaskan kita bahwa implikasi dari teori tujuan diaplikasikan dalam perilaku organisasi adalah jika seorang karyawan berupaya dengan sebaik baiknya dan sesungguh sungguhnya dengan sangat jelas dan juga tegas, maka akan ada hasil atau prestise dan juga perusahaan pun akan mendapatkan strategi-strategi yang baik dan mendapat hasil sesuai dengan yang ia capai.

4.)   jelaskan mengenai teori motivasi hirarki kebutuhan maslow dan jelaskan implikasi dari teori tujuan hirarki kebutuhan maslow perilaku organisasi
Menurut maslow ada 5 jenis kebutuhan manusia yang tersusun secara bertingkat sebagai suatu hirarki, yaitu:
a.       Tingkat 1 : kebutuhan-kebutuhan fisik, misalnya : makanan, air, seks dan tidur. “physilogical needs : food, water, sex and sleep”
b.      Tingkat 2 : kebutuhan akan keamanan, misalnya : perlindungan dari kejahatan. “safety needs protection from harm “.
c.       Tingkat 3 : kebutuhan akan rasa cinta dan di terima, misalnya : afiliasi dengan individu-individu lain, dan di terima oleh individu-individu lain, dan di terima oleh individu-individu lain “love and belonging needs: affiliation with others and acceptance by others”
d.      Tingkat 4 : kebutuhan akan penghargaan, misalnya: prestasi, kompetensi, memperoleh pengakuan dan penghargaan “esteem needs: achievement, competency, gaining approval and recognitions”
e.       Tingkat 5 : aktualisasi diri: pemenuhan potensi keunikan seseorang. “fulfillment of one’s unique potential”. (Plotnik,2005:333)

Implikasi dari teroi maslow ini adalah jika Seorang karyawan sudah memenuhi kebutuhan hirarki maslow dari kebutuhan fisiologis, seperti kebutuhan kebutuhan primernya dan diapun sudah merasa aman dan nyaman dengan perusahaan yang disana ia meniti karirnya dan juga dengan asuransi yang di milikinya, hingga kebutuhan self esteem yang dalam arti karyawan tersebut sudah tercatat sebagai karyawan yang bisa naik jabatan dan mendapat pernghargaan dari atasan, kemudian mengaktualisasi dirinya dengan memilih apa yang dia suka dan tidak suka, hingga ketika ia mendapatkan prestise sebagai manajer atau bahkan lebih, kemudian ia melakukan aktualisasi lebih lanjut dengan memberi motivasi terhadap bawahannya.

Sumber :

Basuki, A.M.H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma



Selasa, 25 Oktober 2016



KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN
PSIKOLOGI MANAJEMEN




Dosen : Natalia konradus


NAMA KELOMPOK :
Ø Bimo Anggoro Putro             12514183
Ø Firman Ardhan                      14514281
Ø Syahrul Ramadhan Saputra      1C514909
Ø Taufik Ariyanto seno             1A514676




KELAS : 3PA18
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Dalam kehidupan di saat ini, mengerti dan memahami kepemimpinan dan kekuasaan sangatlah penting. Hal ini karena elemen-elemen dasar yang selalu ada dan melekat didalam proses organisasi, dan akan dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Selain itu, fungsi kepemimpinan da kekuasaan sangat dibutuhkan dalam industri dan organisasi

Secara sederhana, yang disebut pemimpin adalah apabila berkumpul tiga orang atau lebih kemudian salah seorang diantara mereka “megajak” untuk melakukan suatu pekerjaan maka orang tersebut telah melakukan “kegiatan kepemimpinan” karena ada unsur “mengajak” dan mengoordinasi dan ada kegiatan serta sasarannya. Namun dalam merumuskan batasan atau defenisi kepemimpinan ternyata bukan hal yang mudah.Oleh karena itu manusia memerlukan untuk mempelajari kepemimpinan dan kekuasaan, yaitu untuk menunjukkan adanya pengaruh bagi manusia yang berkerja atau beraktivitas dalam organisasi. 
Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian kekuasaan
2. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan
3. Untuk mengetahui unsur-unsur kepemimpinan
4. Untuk mengetahui fungsi kepemimpinan

Rumusan Masalah
1.      Apa itu kekuasaan?
2.      Sumber kekuasaan?
3.      Tipe kekuasaan?
4.      Apa itu kepemimpinan?
5.      Apa saja fungsi-fungsi kepemimpinan?


BAB II
PEMBAHASAN
·        Definisi Kekuasaan
A.    Definisi Kekuasaan
Kekuasaan didasarkan pada posisi seseorang individu dalam subuah organisasi. Kekuasaan dapat berasal dari kemampuan untuk memaksaatau memveri imbalan, atau dari wewenang yang diperoleh.
Menurut Robbins (2008) Kekuasaan (power) mengacu pada kemampuan yang dimiliki A untuk mempengaruhi prilaku B sehingga B bertindak sesuai keinginan A. definisi mengimplikasikan sebuah potensi yang tidak perlu diaktualisasikan agar efektif dan subuah hubungan ketergantungan.
Menurut Ossip K. Flechtheim : “Kekuasaan sosial adalah keseluruhan dari kemampuan, hubungan – hubungan dan proses – proses yang menghasilkan ketaatan dari pihak lain … untuk tujuan – tujuan yang ditetapkan pemegang kekuasaan.
Menurut Robert M. MacIver : “Kekuasaan sosial adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain, baik secara langsung dengan jalan memberi perintah, maupun secara tidak langsung dengan mempergunakan segala alat dan cara yang tersedia.
Menurut Max Weber kekuasaan itu dapat diartikan sebagai suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor didalam suatu hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan yang menghilangkan halangan.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu (Budiardjo,1972).
·         Sumber – sumber  kekuasan dibagi menjadi dua yaitu :
1)      kekuasaan formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi seseorang individu dalam subuah organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan untuk memaksaatau memveri imbalan, atau dari wewenang formal.

a)     Kekuasaan koersif (coercive power) adalah rasa takut. Seseorang memberikan reaksinya terhadap kekuasaan ini karena rasa takut terhadap akibat – akibat negative yang mungkin terjadi jika tidak patuh.

b)     Kekuasaan imbalan (reward power). Orang memenuhi keinginan atau arahan orang lain karena dengan berbuat demikian ia akan mendapatkan manfaat positif, karena seseorang yang dapat membagikan imbalan atau penghargaan yang dapat dipandang orang lain bernilai akan memiliki kekuasaan atas orang lain itu.

c)     Kekuasaan legitimasi (legimate power). Kekuasaan yang melambangkan kewenangan formal untuk mengendalikan dan memanfaatkan sumber – sumber daya organisasi. Secara spesifik, kekuasaan ini mencakup penerimaaan wewenang suatu jabatan oleh anggota – anggota dalam sebuah organisasi.



2)      Kekuasaan pribadi

a)    Kekuasaan karena keahlian (expert power) adalah pengaruh yang dipeoleh keahlian, ketrampilan khusus atau pengetahuan. Keahlian sumber pengaruh yang paling kuat karena semakin berorientasi pada teknologi.

b)     Kekuasaan rujukan (referent power) didasarkan identifikasi terhadap seseorang yang memiliki sumber atau sifat – sifat personal yang menyenangkan.

·         Tipe – tipe kekuasaan
Menurut Galtung (2008) kekuasaan adalah Daya yang berasal dari sesuatu yang satu, kekuasaan berasal dari sesuatu yang dimiliki seseorang, dan kekuasaan yang berasal dari posisi dari struktur.
Dari pengertian Galtung membedakan tiga tipe kekuasaan yaitu :
1)   Kekuasaan yang diperoleh karena pembawaan sejak lahir yang berhubungan dengan dimensi “ada” (being power)
2)  Kekuasaan yang diperoleh karena “memiliki” sumber – sumber kemakmuran (having power)
3)  Kekuasaan yang diperoleh karena “kedudukannya” dalam suatu struktur (structure power)

·        Pengertian Kekuasaan
Jadi kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa, sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu.
1) Referent Power (kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang timbul karena karisma, karakteristik individu, keteladanan atau kepribadian yang menarik.
Contoh : Kekuasaan rujukan dapat terlihat dari seorang Presiden Soekarno. Soekarno memiliki power dan kharisma yang sangat besar yang menjadikannya seseorang yang penting pada zaman kemerdekaan dulu.
2) Expert Power (kekuasaan kepakaran), yakni kekuasaan yang berdasarkan karena kepakaran dan kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu, sehingga menyebabkan sang bawahan patuh karena percaya bahwa pemimpin mempunyai pengalaman, pengetahuan dan kemahiran konseptual dan teknikal.
Contoh : Kekuasaan kepakaran dapat terlihat dari seorang dokter di sebuah rumah sakit. Asisten dan suster yang membantu dokter tersebut sangat menghormati dan mematuhi perintah dokter tersebut karena ia meyakini bahwa dokter tersebut memiliki kemampuan dan ilmu yang lebih dibandingkan dirinya. Hal ini membuktikan bahwa keahlian, kemampuan dan keilmuan yang dimiliki seorang dokter ahli mampu membuat seorang asisten dokter dan suster menjadin patuh dan tunduk terhadap setiap perintah dokter tersebut.
3) Legitimate Power (kekuasaan sah), yakni kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga.
Contoh : Kekuasaan sah dapat terlihat dari kekuasaan dan kewenangan seorang kepala sekolah di suatu sekolah. Jabatan sebagai kepala sekolah didapat oleh seseorang berdasarkan kemampuan dan usaha yang dilakukannya. Kepala sekolah merupakan jabatan tertinggi dalam sebuah sekolah yang membawahi bawahan seperti guru dan tenaga kependidikan. Segala peraturan dan kewenangan yang dimiliki dan dikeluarkan oleh kepala sekolah menjadi suatu aturan yang harus dipatuhi tanpa terkecuali oleh semua pegawai di sekolah tersebut.
4) Reward Power (kekuasaan penghargaan), adalah kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin. Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kemampuan untuk memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang lain.
Contoh : Kekuasaan pernghargaan dapat terlihat dari sebuah kebijakan sertifikasi guru. Seorang guru yang telah tersertifikasi maka dapat memperbaiki kualitas ekonomi yang dimilikinya karena dengan didapatkannya sertifikasi tersebut maka gaji dan tunjangan yang dapatkannya akan meningkat dan bertambah. Kebijakan sertifikasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah adalah untuk meningkatkan kinerja dan produktifitas guru disekolah.
5) Coercive Power (kekuasaan paksa), yakni kekuasaan yang didasari karena kemampuan seorang pemimpin untuk memberi hukuman dan melakukan pengendalian. Yang dipimpin juga menyadari bahwa apabila dia tidak mematuhinya, akan ada efek negatif yang bisa timbul. Pemimpin yang bijak adalah yang bisa menggunakan kekuasaan ini dalam konotasi pendidikan dan arahan yang positif kepada anak buah. Bukan hanya karena rasa senang-tidak senang, ataupun faktor-faktor subyektif lainnya.
Contoh : Kekuasaan paksaan dapat terlihat dari contoh perilaku pengawasan yang dilakukan oleh seorang pengawas sekolah kepada kepala sekolah dan guru. Pengawasan yang dilakukan meliputi beberapa aspek mulai dari kinerja hingga perilaku yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam memimpin sekolah dan perilaku guru dalam mengajar dikelas. Jika dalam aktivitas pengawasan itu terlihat hal yang negatif atau buruk yang dilakukan oleh pegawai disekolah maka laporan tersebut dapat mempengaruhi jabatan yang telah dimiliki.
6) Information Power (kekuasaan informasi), Yaitu kekuasaan yang diperoleh seseorang dengan memegang informasi penting yang dimiliki oleh orang yang kita kuasai.
Contoh : Tak dapat dipungkiri jika sebuah informasi merupakan hal yang penting dalam kehidupan organisasi. Apalagi informasi itu dapat memperkuat kekuasaan seseorang disuatu organisasi atau kelompok. Sebuah informasi dapat memperkuat kekuasaan dapat digambarkan ketika seseorang yang memiliki jabatan di sebuah organisasi dan ia mengetahui rivalnya melakukan suatu kesalahan atau tindakan hukum dan dapat dijerat hukuman jika diketahui oleh orang lain, maka informasi penting tersebut dapat kita gunakan untuk menjinakkan kekuasaan rival kita di organisasi atau kelompok lain.
7) Connection Power (kekuasaan hubungan), yaitu kekuasaan yang diperoleh seseorang berdasarkan hubungan kekerabatan atau relasi.
Contoh : Dalam menjaga jabatan yang dimilikinya seorang pemimpin pemerintahan misalnya Gubernur akan memilih bawahannya seperti sekretaris, kepala dinas, kepala kasi dan pemimpin di beberapa kantornya berdasarkan hubungan kekerabatan baik itu hubungan keluarga, kolegial dan hubungan politik yang tentunya satu tujuan dan tidak akan bersikap kontra atau oposisi terhadap Gubernur tersebut. Hal ini dilakukan agar setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Gubernur tersebut akan disetujui dan hal ini dilakukan guna menjaga jabatannya di Pemerintahan tersebut.
·        Pengertian Kepemimpinan
Adalah suatu kekuatan yang menggerakkan suatu kegiatan yang menuju sukses. Kepemimpinan dapat juga diartikan sebagai proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan.
Pengertian Kepemimpinan Menurut Para Ahli
Pentingnya arti kepemimpinan terlihat dari banyak para ahli yang memberikan pendapatnya dalam mendefinisikan pengertian kepemimpinan. Pengertian kepemimpinan menurut para ahli adalah sebagai berikut.

Pengertian Kepemimpinan Menurut Para Ahli Luar Negeri
  • George R. Terry (1972:458): Pengertian Kepemimpinan menurut George R. Terry adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. 
  • Stoner: Menurut Stoner, pengertian kepemimpinan adalah suatu proses mengenai pengarahan dan usaha untuk mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan anggota kelompok. 
  • Jacobs dan Jacques (1990:281): Pengertian kepemimpinan menurut Jacobs dan Jacques adalah sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif, dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. 
  • Hemhiel dan Coons (1957:7): Menurut Hemhiel dan Coons, bahwa pengertian kepemimpinan adalah perilaku dari seseorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang akan dicapai bersama (shared goal). 
  • Ralph M. Stogdill: Pengertian kepemimpinan menurut Ralph M. Stogdill adalah suatu proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan sekelompok orang yang terorganisasi dalam usaha mereka menetapkan dan mencapai tujuan. 
  • Rauch dan Behling (1984:46): Pengertian kepemimpinan menurut Rauch dan Behling adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasikan ke arah pencapaian tujuan. 
  • Wexley dan Yuki (1977): Pengertian kepemimpinan menurut Wexley dan Yuki adalah mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.  
Pengertian Kepemimpinan Menurut Para Ahli Indonesia
  • Wahjosumidjo (1987:11): Adalah suatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti: kepribadian (personality), kemampuan (ability), dan kesanggupan (capability), kepemimpinan sebagai rangkaian kegiatan (activity) pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan (posisi) serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri. Kepemimpinan adalah proses antarhubungan atau interaksi antara pemimpin, pengikut dan situasi. 
  • Sutarto (1998b:25): Menurut Sutarto, pengertian kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain adalah situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 
  • S.P.Siagian: Pengertian kepemimpinan menurut S.P.Siagian adalah kemampuan dan keterampilan seseorang untuk menduduki jabatan sebagai pimpinan dalam suatu pekerjaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya supaya berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku positif ini memberikan sumbangna nyata dalam pencapaian tujuan organisasi. 
  • Moejiono (2002): Pengertian kepemimpinan dimana menurut moejiono bahwa kepemimpinan adalah sebagai akibat penagaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. 
Fungsi Kepemimpinan 
  • Memprakarsai struktur organisasi 
  • Menjaga koordinasi dan integrasi di dalam organisasi agar dapat berjalan dengan efektif. 
  • Merumuskan tujuan institusional atau organisasional dan menentukan sarana serta cara-cara yang efisien dalam mencapai tujuan tersebut. 
  • Mengatasi pertentangan serta konflik-konflik yang muncul dan mengadakan evaluasi serta evaluasi ulang. 
  • Mengadakan revisi, perubahan, inovasi pengembangna dan penyempurnaan dalam organisais.
Pada hakikatnya, fungsi kepemimpinan terdiri dari dua aspek yaitu sebagai berikut... 
  • Fungsi Administrasi : yaitu mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya. 
  • Fungsi Sebagai Top Manajemen : adalah mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controlong, dsb. 
Fungsi Kepemimpinan Menurut Hadari Nawawi

1.    Fungsi Instruktif,      Adalah pemimpin sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagiamana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan diman (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan suatu perintah. 
2.   Fungsi Konsultatif,   Adalah pemimpin menggunakan fungsi konsultatif sebagai bentuk dari komunikasi dua arah untuk usaha menetapkan keputusan yang membutuhkan pertimbangna dan konsultasi dengan orang yang dipimpinnya. 
3.   Fungsi Partisipasi,     Adalah pemimpin dapat mengaktifkan anggotanya dalam pengambilan keptuusan maupun dalam melaksanakannya. 
4.   Fungsi Delegasi,         Adalah pemimpin memberikan pelimpahan wewenang yang membuat atau sampai dengan menetapkan keputusan. Fungsi delegasi merupakan kepercayaan seorang pemimpin kepada seorang yang diberikan pelimpahan wewenang untuk bertanggung jawab. 
5.   Fungsi Pengendalian,   Adalah pemimpin dapat membimbing, mengarahkan, koordinasi dan pengawasan terhadapa aktivitas anggotanya. 


DAFTAR PUSTAKA
Engkoswara. (2010), Administrasi Pendidikan. Bandung. Alfabeta
Muhammad, A. (2009). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara
Robbins. S. & Judge. T. (2008) prilaku organisasi. Jakarta : salemba empat
Anshoriy. N. (2008)  Dekontruksi kekuasaan. Yogyakarta : PT LKiS pelangi aksara Yogyakarta  
Budiardjo, M. (1972) Dasar – dasar ilmu politik. Jakarta : PT gramedia pustaka utama