I.
A.
Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi
adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan
pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua
kata, yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan “Therapy” yang
artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi
disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran
Psikoterapi
adalah proses yang digunakan profesional dibidang kesehatan mental untuk
membantu mengenali, mendefinisikan, dan mengatasi kesulitan interpersonal dan
psikologis yang dihadapi individu dan meningkatkan penyesuaian diri mereka
(Proschaska & Norcross, 2007)
Psikoterapi
adalah perawatan dan penyembuhan gangguan jiwa dengan cara psikologis. Istilah
tersebut mencakup berbagai teknik yang kesemuanya dimaksudkan membantu individu
yang emosinya terganggu untuk mengubah perilaku dan perasaannya, sehingga
mereka dapat mengembangkan cara yang bermanfaat dalam menghadapi orang lain.
B.
Tujuan psikoterapi
Terdapat
beberapa tujuan psikoterapi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu:
1.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat sesuatu yang tidak
sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan
terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru
dari konflik-konflik yang lama.
2.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
Psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag
tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan
kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui
konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
3.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah : untuk
memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri
arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal
dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan
dirinya yang unik.
4.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut : untuk
menghilangkan kesalah dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan
pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang
khusus dilakukan oleh klien. Corey (1991) menjelaskan mengenai hal ini sebagai
berikut : Terapi perilaku bertujuan secara umum untuk menghilangkan perilaku
yang malasuai (mal adaptive) dan lebih banyak mempelajari perilaku yang
efektif.
5.
Tujuan psikoterapi dengan metode dan
teknik Gestalt, dirumuskan oleh Corey, et al (1987) sebagai berikut : Agar
seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap
arah kehidupan seseorang. Corey (1991) merumuskan tujuan Gestalt sebagai
berikut : membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari
pengalamannya. unutk merangsangya meneriama tanggung jawab dari dorongan yang
ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap
dorongan-dorongan dari dunia luar.
Adapun tujuan terapi
menurut Korchin:
1.
memperkuat motivasi klien untuk
melakukan hal yang benar
2.
mengurangi tekanan emosional
3.
mengembangkan potensi klien
4.
mengubah kebiasaan
5.
memodifikasi struktur kognisi
6.
memperoleh pengetahuan tentang diri
7.
mengembangkan kemampuan berkomunikasi
& hubungan interpersonal
8.
meningkatkan kemampuan mengambil
keputusan
9.
mengubah kondisi fisik
10.
mengubah kesadaran diri mengubah
lingkungan sosial
Pada akhirnya tujuan
semua bentuk psikoterapi merupakan modifikasi atau pengubahan tingkah laku
pasien sedemikian rupa, sehingga menghasilkan kemampuan penyesuaian diri yang
lebih efektif terhadap lingkungannya.
C.
Unsur-Unsur Psikoterapi
Menurut Masserman terdapat delapan
parameter pengaruh dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis
psikoterapi, yaitu:
·
Peran sosial
·
Hubungan (Persekutuan tarapeutik)
·
Hak
·
Retrospeksi
·
Reduksi
·
Rehabilitisi, memperbaiki gangguan
perilaku berat
·
Resosialisasi
·
Rekapitulasi
D. Perbedaan Antara Konseling Dengan
Psikoterapi
Apabila
kita tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut konseling Menurut
Schertzer dan Stone (1980) Konseling adalah upaya membantu individu melalui
proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli
mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan
tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan
efektif perilakunya.
Sedangkan
psikoterapi menurut Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001),
mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen
terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom
untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan
dan perkembangan pribadi yang positif.
Dari
dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan
tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan
konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat
ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli
dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan
juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang
diyakininya.
Sedangkan
psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya emosional
dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga
lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu
dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian ke arah yang positif.
E.
Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental
Illnes
Terdapat beberapa
pendekatan psikoterapi terhadap mental illness seperti:
1. Psychoanalysis
dan psychodynamic: Berfokus terhadap mengubah masalah prilaku, perasaan dan
pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran
bawah sadarnya untuk mendapat solusi.
2. Behavior
therapy:Berfokus dalam hukum pembelajaran. Perilaku seseorang akan dipengaruhi
proses pembelajaran seumur hidup tokohnya adalah Ivan Pavlov yang menemukan
teknik classical conditioning assosiative learning. Inti dari pendekatan
behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk
asossiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).
3. Cognitive
therapy: Cognitive therapy dalah penyebab difungsi pikiran dan menyebabkan
difungsi perilaku. Tokohnya Albert Ellis dan Aron Back. Tujuan utama pendekatan
kognitif adalah mengubah pola pikir dengan cara mengubah meningkatkan kesadaran
dalam pola pikir rasional, metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan
kognitif adalah collaborative empiricism, guide discovery.
4. Humanistic
therapy: Pendekatan humanistic therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik
dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap
manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh
karena itu dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator
perubahan saja bukan mengarahkan perubahan.
5. Integrative
therapy: Apabila seseorang klien mengalami komplikasi gangguan psikologis yang
namanya tidak cukup bila ditangani dengan satu metode psikoterapi saja.
II.
A.
Terapi psikoanalisis
Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan
kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi.
Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund Freud yang
mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan
emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan,
ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa
kecil. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh
kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan
naluri psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama dalam kehidupannya.
B.
Konsep Dasar Teori Psikoanalisis tentang kepribadian
Kesadaran dan ketaksadaranBagi Freud, kesadaran
merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Seperti gunung es yang
mengapung yang bagian terbesarnya berada dibawah permukaan air, bagian jiwa
yang terbesar berada dibawah permukaan kesadaran. Ketaksadaran menyimpan
pengalaman-pengalaman, ingatan, dan bahan-bahan yang di represi. Freud percaya,
bahwa sebagian besar fungsi psikologis berada di luar kesadaran.
Sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi disadari, karena hanya ketika menyadari motif-motif tersebutlah individu bisa melaksanakan pilihan. Walaupun diluar kesadaran, ketaksadaran tetap mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tak sadar adalah akar dari gejala dan tingkah laku neurotik. Dari perspektif ini, penyembuhan adalah upaya untuk menyingkap gejala-gejala, sebab tingkah laku dan bahan-bahan yang direpresi yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.
Sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi disadari, karena hanya ketika menyadari motif-motif tersebutlah individu bisa melaksanakan pilihan. Walaupun diluar kesadaran, ketaksadaran tetap mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tak sadar adalah akar dari gejala dan tingkah laku neurotik. Dari perspektif ini, penyembuhan adalah upaya untuk menyingkap gejala-gejala, sebab tingkah laku dan bahan-bahan yang direpresi yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.
Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa mentoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b. Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi pengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c. Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral bagi individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls dari Id.
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa mentoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b. Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi pengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c. Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral bagi individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls dari Id.
C. Unsur-unsur Terapi Psikoanalisis
- Tujuan psikoterapi
dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat
sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi
kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan
menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
- Tujuan
psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991)
dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang
disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman
yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui
pemahaman intelektual.
- Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut
Ivey, et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang
dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan
dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang
majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
D. Teknik-teknik Terapi
Psikoanalisis
Teknik-teknik dalam Psikoanalisis
disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas
tingkah laku klien, serta untuk memahami makna dari beberapa gejala. Kemajuan
terapeutik diawali dari pembicaraan klien ke arah katarsis, pemahaman, hal-hal yang
tidak disadari, sampai dengan tujuan pemahaman masalah-masalah intelektual dan
emosional. Untuk itu diperlukan teknik-teknik dasar psikoanalisis, yaitu :
- Asosiasi
Bebas
Asosiasi Bebas merupakan teknik
utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya
dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin
mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas
adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai, sementara terapis
duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat
asosiasinya mengalir dengan bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu
metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan
emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian
dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya menghasilkan perbedaan
sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak
memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey, 1995).
- Penafsiran
(Interpretasi)
Penafsiran merupakan prosedur dasar
di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi.
Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan
dan mengajarkan klirn makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam
mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi
dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru
dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjud.
Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak
terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien. (Corey, 1995).
- Analisis
Mimpi
Analisis Mimpi adalah prosedur atau
cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien
pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur,
pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres akan
muncul kepermukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi
merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut
hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan.
Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya
diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang
berbeda.
Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi
laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang
disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tidak disadari. Karena begitu
menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif
tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes
yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana
adanya. Sementara tugas terapis adalah mengungkapkan makna-makna yang
disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Di
dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan
secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkapkan makna-makna
yang terselubung (Corey, 1995).
- Resistesi
Resistensi adalah sesuatu yang
melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak
disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan
ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu.
Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang
digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa
dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau
perasaan yang direpres tersebut.
Dalam proses terapi, resistensi
bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari
pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat
dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski
sebenarnya menghambat kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan
(Corey, 1995).
- Transferensi
Resistensi dan Transferensi
merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis. Transferensi dalam keadaan
normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara
lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan
neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme
pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti.
Seperti ketika klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan
dari orangtuanya (Chaplin, 1995).
Transferensi mengejawantah ketika
dalam proses terapi “urusan yang tidak selesai” (unfinished business)
masa lalu klien dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien
mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia bereaksi terhadap
ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan
menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas
terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan,
objektivitas, keanoniman dan kepasifan yang relatif. Dengan cara ini, maka
diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan
memungkinan klien mampu memperoleh pemahaman dan sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi,
konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya, serta mengatakan kepada klien
suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini
(Corey, 1995).
III. A. Terapi Humanistik Eksistensial
Dasar
terapi Humanistik adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan
perhatian pada kecendrungan alami dalam pertumbuhan dan pewujudan dirinya.
Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi
bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan
membantunya memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu pendekatan yang dikenal
dalam terapi Humanistik ini adalah Terapi yang berpusat kepada klien
Client-Centered Theraphy.
B. Konsep-konsep Dasar Teori humanis eksistensial tantang kepribadian
Pandangan
tentang Manusia Terapi Eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia.
Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas
manusia alihalih suatu sistem tehnik-tehnik yang digunakan untuk mempengaruhi
klien. Eksistensial humanistik berasumsi bahwa manusia pada dasarnya memiliki
potensipotensi yang baik minimal lebih banyak baiknya dari pada buruknya.
Terapi eksistensial humanistik memusatkan perhatian untuk menelaah
kualitas-kualitas insani, yakni sifat-sifat dan kemampuan khusus manusia yang
terpateri pada eksistensial manusia, seperti kemampuan abstraksi, daya analisis
dan sintesis, imajinasi, kreatifitas, kebebasan sikap etis dan rasa estetika. 4
Departemen Pendidikan Nasional, Modul Bimbingan dan Konseling PLPG Kuota
2008(Surabaya:Unesa,2008),hal.16 Terapi eksistensial humanistik berfokus pada
kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan
pada pemahaman atas manusia alihalih suatu sistem tehnik-tehnik yang digunakan
untuk mempengaruhi klien. Oleh karena itu, pendekatan eksistensial humanistik
bukan justru aliran terapi, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik
suatu pendekatan yang mencakup terapiterapi yang berlainan yang kesemuanya
berlandaskan konsep-konsep dan asumsiasumsi tentang manusia. Pendekatan
eksistensial humanistik mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, memberikan
gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa
manusia selalu ada dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung
mengaktualkan dan memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial humanistik
secara tajam berfokus pada fakta-fakta utama keberadaan manusia, kesadaran
diri, dan kebebasan yang konsisten. Menurut teori dari Albert Ellis yang
berhubungan dengan eksistensi manusia. Ia menyatakan bahwa manusia bukanlah
makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh
naluri-naluri. Ia melihat sebagai individu sebagai unik dan memiliki kekuatan
untuk menghadapi keterbatasan-keterbatasan untuk merubah pandangan-pandangan
dan nilai-nilai dasar dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak
diri-sendiri. Manusia mempunyai kesanggupan untuk mengkonfrontasikan
sistem-sistem nilainya sendiri dan menindoktrinasi diri dengan
keyakinan-keyakinan, gagasan-gagasan dan nilai yang berbeda, sehingga
akibatnya, mereka akan bertingkah laku yang berbeda dengan cara mereka
bertingkah laku dimasa lalu. Jadi karena berfikir dan bertindak sampai 5 Gerald
Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,….hal 84 menjadikan dirinya
bertambah, mereka bukan korban-korban pengondisian masa lalu yang positif.6
Berdasar pendapat Ellis diatas, maka dapat diambil pengertian, bahwa setiap
individu mempunyai kemampuan untuk merubah dirinya dari hal-hal yang
diterimanya. Manusia mempunyai kesanggupan untuk mempertahankan perasaannya
sendiri dan dapat memberikan ajaran kembali kepada dirinya melalui keyakinan,
pendapat, dan hal-hal yang penting lainnya. Disini pendekatan eksistensial
humanistik adalah mengembalikan potensipotensi diri manusia kepada fitrahnya.
Pengembangan potensi ini pada dasarnya untuk mengaktualisasikan diri klien dan
memberikan kebebasan klien untuk menentukan nasibnya sendiri dan menanamkan
pengertian bahwa manusia pada fitrahnya bukanlah hasil pengondisian atau
terciptanya bukan karena kebetulan. Manusia memiliki fitrah dan potensi yang
perlu dikembangkan.
C.
Unsur-Unsur Terapi
1.
Munculnya gangguan
Model
humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian
besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan
manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat
banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan
realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta
merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi
kemungkinan pernah hadir ketiadaan. Pencarian makna dalam kehidupan
masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik
kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada
1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
2.
Tujuan Terapi
·
Membantu individu menemukan nilai,
makna, dan tujuan hidup manusia sendiri.
·
Menyajikan kondisi-kondisi untuk
memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.
·
Menghapus penghambat-penghambat
aktualisasi potensi pribadi.
·
Membantu klien menemukan dan menggunakan
kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.
·
Agar klien mengalami keberadaannya
secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta
sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya
keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3)
memikul tanggung jawab untuk memilih.
3.
Peran Terapis
Menurut
Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama
yang mencakup hal-hal berikut :
·
Mengakui pentingnya pendekatan dari
pribadi ke pribadi
·
Menyadari peran dan tanggung jawab
terapis
·
Mengakui sifat timbale balik dari
hubungan terapeutik.
·
Berorientasi pada pertumbuhan
·
Menekankan keharusan terapis terlibat
dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
·
Mengakui bahwa putusan-putusan dan
pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
·
Memandang terapis sebagai model, bisa
secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan
positif.
·
Mengakui kebebasan klien untuk
mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya
sendiri.
·
Bekerja kearah mengurangi kebergantungan
klien serta meningkatkan kebebasan klien.
D. Teknik-teknik Konseling
Eksistensial
Yang paling dipedulikan oleh
konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa
menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya
adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien
agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis
eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi
bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap
yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, merekamenggunakan teknik
seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien
sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka
mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada
perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer &
Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan
teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan
manipulasi Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam
hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif
menantang dan memahami klien.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
eksistensial-humanistik, yaitu:
- Penerimaan
- Rasa
hormat
- Memahami
- Menentramkan
- Memberi
dorongan
- Pertanyaan
terbatas
- Memantulkan
pernyataan dan perasaan klien
- Menunjukan
sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
- Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna
III.
A. Terapi Person Centered (Rogers)
Terapi person centered
merupakan model terapi berpusat pribadi yang dipelopori dan dikembangkan oleh
psikolog humanistis Carl R. Rogers. Ia memiliki pandangan dasar tentang
manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat positif, makhluk yang
optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif,
bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), dan berorientasi ke masa yang
akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self
fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi
diri). Filosofi tentang manusia ini berimplikasi dan menjadi dasar pemikiran
dalam praktek terapi person centered. Menurut Roger konsep inti terapi person
centered adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan
perwujudan diri.
Berdasarkan
sejarahnya, terapi yang dikembangkan Rogers ini mengalami beberapa
perkembangan. Pada mulanya dia mengembangkan pendekatan konseling yang disebut
non-directive counseling (1940). Pendekatan ini sebagai reaksi terhadap
teori-teori konseling yang berkembang saat itu yang terlalu berorientasi pada
konselor atau directive counseling dan terlalu tradisional. Pada 1951
Rogers mengubah namanya menjadi client-centered therapy sehubungan dengan
perubahan pandangan tentang konseling yang menekankan pada upaya reflektif
terhadap perasaan klien. Kemudian pada 1957 Rogers mengubah sekali lagi
pendekatannya menjadi konseling yang berpusat pada person (person centred
therapy), yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian
pengalaman baik pada klien maupun terapis. Terapi ini memperoleh sambutan
positif dari kalangan ilmuwan maupun praktisi, sehingga dapat berkembang secara
pesat. Hingga saat ini, terapi ini masih relevan untuk dipelajari dan
diterapkan.
Pendekatan
terapi person centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu
yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Terapi ini berfokus
pada bagaimana membantu dan mengarahkan klien pada pengaktualisasian diri untuk
dapat mengatasi permasalahannya dan mencapai kebahagiaan atau mengarahkan
individu tersebut menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Konsep pokok yang
mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self),
aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakekat kecemasan.
Terapi
ini cocok untuk orang-orang dengan masalah psikologis yang ada ketidakbahagiaan
dalam dirinya, mereka biasanya akan mengalami masalah emosional dalam hubungan
dikehidupannya, sehingga menjadi orang yang tidak berfungsi sepenuhnya.
Contohnya orang-orang yang merasakan penolakan dan pengucilan dari yang lain,
pengasingan yakni orang yang tidak memperoleh penghargaan secara positif dari
orang lain, ketidakselarasan antara pengalaman dan self (tidak
kongruensi), mengalami kecemasan yang ditunjukkan oleh ketidakkonsistenan
mengenai konsep dirinya, defensive, dan berperilaku yang salah penyesuaiannya.
B.
Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku / Kepribadian
Carl
Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada
hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien.
Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien
bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli
terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang
menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya.
Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan
ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat
menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui
pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh
harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.
Konsep Carl Rogers
tentang kepribadian :
Berbagai istilah dan
konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan
perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai
berikut :
1.
Pengalaman
Pengalaman
mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait
akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita
seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam
kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran
masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin
terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2.
Realitas
Untuk
tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi
individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang
memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang
akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat
dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan
kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa
politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi
hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam
terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3.
Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang
mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut
akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih
jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku
di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat
memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia
memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri
sebagai pejabat.
4.
Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing
Tendency)
Ini
adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart
Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya
beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah
contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori
kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan
eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk
menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong
pengembangan optimal dari organisme total.
5.
Frame Internal Referensi
Ini
adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna
yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang
memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana
sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal
ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6.
Konsep Diri
Istilah
– istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi
karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku”
kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai
yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan
proses perubahan.
7.
Symbolization
Ini
adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak
simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang –
orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan
berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten
dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan
khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan
sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8.
Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal
ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman
individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur –
unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman
kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak
ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9.
Organismic Valuing Process
Ini
adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti
indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan
sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan”
dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic
konsisten dengan hipotesis.
10. The Fully
Functioning Person
Rogers
mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti
Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan,
memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui
pengalaman mereka.
C.
Unsur-Unsur Person-Centered Therapy
1. Munculnya
Gangguan
Hambatan
atas pertumbuhan psikologis terjadi saat seseorang mengalami penghargaan
bersyarat, inkongruensi, sikap defensif, dan disorganisasi. Penghargaan
bersyarat dapat berakibat pada kerentanan, kecemasan, dan ancaman serta
menghambat manusia dari merasakan penerimaan positif yang tidak bersyarat.
Inkongruensi berkembang saat diri orgasmik dan diri yang dirasakan tidak
selaras. Saat diri organismik dan diri yang dirasakan tidak kongruen, manusia
cenedrung menjadi defensif serta menggunakan distorsi dan penyangkalan sebagai
usaha untuk mengurangi inkongruensi. Manusia yang mengalami disorganisasi saat
distorsi dan penyangkalan tidak cukup untuk menahan inkongruensi. Orang-orang
yang cenderung tidak menyadari inkongruensi mereka, memungkinkan untuk merasa
lebih cemas, terancam, dan defensif.
2. Tujuan Terapi
Rogers
(1980) memberikan penjelasan sesuai dengan logika bahwa ketika seseorang
merasakan sendiri bahwa mereka dihargai dan diterima tanpa syarat, mereka
menyadari bahwa mungkin untuk pertama kalinya mereka dapat dicintai. Sehingga,
tujuan dari person-centered therapy adalah untuk membuat
klien/pribadi seseorang dapat menghargai dan menerima diri mereka sendiri dan
untuk mempunyai penerimaan positif yang tidak bersyarat terhadap diri
mereka.
3. Peran Terapis
Dalam pandangan Rogers,
konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan
masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan
kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan dan
persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.
Agar peran ini dapat
dipertahankan dan tujuan dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim
atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling.
Selain peranan diatas,
peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan kemampuan
yang pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang secara optimal, dengan
cara menciptakan hubungan konseling yang hangat. Dalam suasana yang demikian,
konselor merupakan agen pembangunan yang mendorong terjadinya perubahan pada
diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat langsung dalam
proses perubahan tersebut.
D.
Teknik – Teknik Terapi
Untuk
terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih
penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan
sudah cukup terapi, yaitu :
·
Empathy
·
Positive Regard (acceptance)
·
Congruence
Empati adalah
kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan
pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama
dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang
ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor
yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang
membawa perubahan dan pembelajaran.
Positive
Regard yang
di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam
untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.
Congruence /
Kongruensi adalah
kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau
pulasan – pulasan.
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan
Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek dari
Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar