PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan
adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan
adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan
pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang
ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Kebanyakan
orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat
atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke
depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang
pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno,
Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti
itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan
yang mereka inginkan.
Tiap
oraganisasi yang memerlukan kerjasama antar manusia dan menyadari bahwa masalah
manusia yang utama adalah masalah kepemimpinan. Kita melihat perkembangan dari
kepemimpinan pra ilmiah kepada kepemimpinan yang ilmiah. Dalam tingkatan ilmiah
kepemimpinan itu disandarkan kepada pengalaman intuisi, dan kecakapan praktis.
Kepemimpinan itu dipandang sebagai pembawaan seseorang sebagai anugerah Tuhan.
Karena itu dicarilah orang yang mempunyai sifat-sifat istimewa yang dipandang
sebagai syarat suksesnya seoran gpemimpin. Dalam tingkatan ilmiyah kepemimpinan
dipandang sebagai suatu fungsi, bukan sebagai kedudukan atau pembawaan pribadi
seseorang. Maka diadakanlah suatu analisa tentan gunsur-unsur dan fungsi yang
dapat menjelaskan kepada kita, syarat-syarat apa yang diperlukan agar pemimpin
dapat bekerja secara efektif dalam situasi yang berbeda-beda. Pandangan baru
ini membawa pembahasan besar. Cara bekerja dan sikap seorang pemimpin yang
dipelajari. Konsepsi baru tentang kepemimpinan melahirkan peranan baru yang harus
dimainkan oleh seorang pemimpin. Titik berat beralihkan dari pemimpin sebagai
orang yang membuat rencana, berfikir dan mengambil tanggung jawab untuk
kelompok serta memberikan arah kepada orang-orang lain. Kepada anggapan, bahwa
pemimpin itu pada tingkatan pertama adalah pelatih dan koordinator bagi
kelompoknya. Fungsi yang utama adalah membantu kelompok untuk belajar
memutuskan dan bekerja secara lebih efisien dalam peranannya sebagai pelatih
seorang pemimpin dapat memberikan bantuan-bantuan yang khas. Yaitu :
Ø Pemimpin
membantu akan terciptanya suatu iklim sosial yang baik.
Ø Pemimpin
membantu kelompok dalam menetapkan prosedur-prosedur kerja.
Ø Pemimpim
membantu kelompok untuk mengorganisasi diri.
Ø Pemimpin
bertanggung jawab dalam mengambil keputusan sama dengan kelompok.
Ø Pemimpin
memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman.
Barangkali
pandangan pesimistis tentang keahlian-keahlian kepemimpinan ini telah
menyebabkan munculnya ratusan buku yang membahas kepemimpinan. Terdapat nasihat
tentang siapa yang harus ditiru (Attila the Hun), apa yang harus diraih
(kedamaian jiwa), apa yang harus dipelajari (kegagalan), apa yang harus diperjuangkan
(karisma), perlu tidaknya pendelegasian (kadang-kadang), perlu tidaknya
berkolaborasi (mungkin), pemimpin-pemimpin rahasia Amerika (wanita),
kualitas-kualitas pribadi dari kepemimpinan (integritas), bagaimana meraih
kredibilitas (bisa dipercaya), bagaimana menjadi pemimipin yang otentik
(temukan pemimpin dalam diri anda), dan sembilan hukum alam kepemimpinan
(jangan tanya). Terdapat lebih dari 3000 buku yang judulnya mengandung kata
pemimipin (leader). Bagaimana menjadi pemimpin yang efektif tidak perlu diulas
oleh sebuah buku. Guru manajeman terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya
dengan beberapa kalimat: "pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah
berpikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara
jelas dan nyata.
Max
Weber, seorang sosiolog, adalah ilmuan pertama yang membahas kepemimpinan
karismatik. Lebih dari seabad yang lalu, ia mendefinisikan karisma (yang
berasal dari bahasa Yunani yang berarti "anugerah") sebagai
"suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang
kebanyakan dan biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural,
manusia super, atau paling tidak daya-daya istimewa.Kemampuan-kemampuan ini
tidak dimiliki oleh orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang
bersumber dari yang Ilahi, dan berdasarkan hal ini seseorang kemudian dianggap
sebagai seorang pemimpin.
Kepemimpinan
merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk
mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang
kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya
melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah.
Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses
untuk mengubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan
meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan
serta penghargaan terhadap para bawahan.
Terdapat empat faktor
untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yang dikenal sebutan 4 I,
yaitu : idealized
influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual
consideration.
Idealized influence:
kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi
guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang
terbaik untuk kepentingan sekolah.
Inspirational
motivation: kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk
memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam
mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.
Intellectual
Stimulation: kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di
kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan
masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik.
Individual
consideration: kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat
bagi guru dan stafnya.
Berdasarkan
hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa
seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat
lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang
lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para
kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya.
Karena
kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang
aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin
transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha
sadar dan sunggug-sungguh dari yang bersangkutan. Northouse (2001) memberikan
beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai
berikut:
·
Berdayakan seluruh bawahan untuk
melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
·
Berusaha menjadi pemimpin yang bisa
diteladani yang didasari nilai yang tinggi
·
Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk
mengembangkan semangat kerja sama
·
Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh
semua orang dalam organisasi
·
Bertindak sebagai agen perubahan dalam
organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu
perubahan
·
Menolong organisasi dengan cara menolong
orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi
Model
kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam
studi-studi kepemimpinan. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang
secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Menurutnya,
untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan
transformasional, model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan
transaksional. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi
dan legitimasi di dalam organisasi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya
menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan
para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu, pemimpin
transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas
organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka, para
pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan
dan hukuman kepada bawahannya. Sebaliknya, Burns menyatakan bahwa model
kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu
memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang
mereka harapkan.
Pemimpin
transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan
mengartikulasikan visi organisasi, dan bawahan harus menerima dan mengakui
kredibilitas pemimpinnya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa “the dynamic of
transformational leadership involve strong personal identification with the
leader, joining in a shared vision of the future, or goingbeyond the
self-interest exchange of rewards for compliance”. Dengan demikian, pemimpin
transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral
dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional
juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan
bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi
daripada apa yang mereka butuhkan. Menurut Yammarino dan Bass (1990), pemimpin
transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas
mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang
lebih besar. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin
transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik,
menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan menaruh parhatian pada
perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Dengan demikian, seperti
yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990), keberadaan para pemimpin
transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi
maupun pada tingkat individu. Dalam buku mereka yang berjudul “Improving
Organizational Effectiveness through Transformational Leadership”, Bass dan
Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat
dimensi yang disebutnya sebagai “the Four I’s”.
Dimensi
yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Dimensi
yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya
mengagumi, menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dimensi yang kedua disebut
sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini,
pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu
mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan,
mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu
menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan
optimisme. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation
(stimulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan
ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan
yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari
pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi
individu). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai
seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan
bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan
pengembangan karier. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini
termasuk relatif baru, beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat
dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Banyak peneliti dan
praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional
merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik
pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996).
Konsep
kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan
dalam pendekatan-pendekatan watak (trait), gaya (style) dan kontingensi, dan
juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep
terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber
1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Beberapa ahli
manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan
transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik, inspirasional dan yang
mempunyai visi (visionary). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda, namun
fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut
lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Bryman (1992) menyebut
kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership),
sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos
(breakthrough leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam
ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar
terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali
(reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan
organisasi, memulai proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur,
proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan
cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan
mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap
tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya
perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan
mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai
pemikiran yang metanoiac, dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu
menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan praktikpraktikorganisasi
yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasaldari
kata Yunani meta yang berarti perubahan, dan nous/noos yang berarti pikiran.
Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata, kondisi di berbagai
pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi
(hyper-competition). Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam
permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). Oleh
karena itu, perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus
menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu
relevan dengan kondisi persaingan baru. Pemimpin transformasional dianggap
sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus
meningkatkan efisiensi, produktifitas, dan inovasi usaha guna meningkatkan daya
saing dalam dunia yang lebih bersaing.
GAYA KEPEMIMPINAN
SOEKARNO
Bung
Karno adalah Sang Proklamator, seorang orator ulung yg bisa membangkitkan
semangat nasionalisme Rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yg
sangat populis, bertempramen meledak-ledak, tidak jarang lembut dan menyukai
keindahan.
Gaya kepemimpinan yg diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yg jg menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif & inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara barat (Amerika dan Eropa).
Gaya kepemimpinan yg diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yg jg menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif & inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara barat (Amerika dan Eropa).
Ir.
Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah
dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan
Bangsanya. Soekarno termasuk sbg tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme yg
pertama, baik di dlm negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri
seperti India, Cina, Vietnam, dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis
anti-kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pasca-kolonial. Dalam
perjuangannya, mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang
negara merdeka. Ini khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa
kolonialisme kelihatan kokoh secara alamiah dan legal di Dunia. Prinsip politik
mempersatukan elite gaya Soekarno adalah “alle leden van de familie aan een
eet-tafel” (semua anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan)
GAYA KEPEMIMPINAN SOEHARTO
Dalam
bidang politik, sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto
telah banyak memengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan
dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham
komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur
sebagai provinsi ke-27 juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa
partai Fretilin(Frente Revolucinaria De Timor Leste
Independente atau partai yang berhaluan sosialis-komunis) akan berkuasa di
sana bila dibiarkan merdeka.
Hal-Hal Yang Dapat
Dicontoh
1. Keberanian
Sudah dapat dipastikan
bahwa seorang militer seperti Presiden Soeharto adalah sosok yang berani, baik
dalam memimpin aksi militernya maupun saat memerintah negeri ini. Dalam
memimpin aksi militer, acapkali Beliau berhasil dalam setiap misi-misinya. Sedangkan
saat memerintah negeri ini, beliau berani dalam melawan komunis-komunis yang
ada di Indonesia (yang notabene Indonesia masih kacau saat menjadi presiden).
Serta presiden Soeharto tegas dalam mengambil keputusan meskipun keputusan
tersebut ditentang sekalipun.
2. Ketegaran
Memang semua tindakan
mengundang pro dan kontra, tak terlebih saat masyarakat Indonesia menginginkan
adanya reformasi besar-besaran. Disini saya melihat bahwa Presiden Soeharto
dengan tegar melepaskan sikap kediktatorannya dan mengundurkan diri sebagai
presiden. Tidak seperti pemimpin Libya yang baru tewas baru orde
kediktatorannya di lepas.
3. Kemauan
Dalam memimpin negara
ini, kemauan untuk memajukan negeri ini terlihat dengan kuat seperti kemauan
untuk memajukan pertanian di Indonesia. Disamping itu, Presiden Soeharto juga
memiliki kemauan yang sangat kuat dalam menyelesaikan polemik yang terjadi di
Indonesia saat itu. Andai saja saat itu (dengan kondisi politik yang tidak
stabil) presiden menerapkan system demokratis mungkin negeri ini akan kacau
sebab masih banyak paham-paham yang ada di Indonesia seperti paham komunis.
4. Integritas
Banyak integritas yang
telah dituangkan oleh Presiden Soeharto seperti pada bidang politik (menghapus
paham komunis dan menstabilkan bangsa yang sedang kaca saat itu), ekonomi
(terlihat yang paling mencolok saat swasembada beras), pendidikan (pendidikan
formal telah mulai dicanangkan).
5. Komitmen
Presiden Soeharto
memiliki komitmen yang sangat kuat untuk mengubah bangsa (saat itu) dari
kondisi politik yang tidak stabil (banyak paham yang dapat merusak bangsa
seperti paham komunis) menjadi kondisi yang aman dan tentram.
GAYA KEPEMIMPINAN SBY
Pertama
saya mengaitkan bahwa SBY bergaya pemimpin yang bertipe militeristik. Hal ini
disebabkan karena yang mempengaruhi corak kepemimpinan seseorang bisa berupa
pendidikan dan pengalaman. Dari segi pendidikan dan pengalaman inilah yang
mengindikasikan bahwa SBY memiliki gaya militeristik karena SBY merupakan
lulusan AKABRI terbaik dan mengabdi sebagai perwira TNI selama 27 tahun, serta
meraih pangkat Jendral TNI tahun 2000. Meskipun cukup lama di dunia militer,
SBY juga berkembang dalam pendidikan sipil seperti memperoleh Master in
Management dari Webster University, Amerika Serikat tahun 1991. Lanjutan
studinya berlangsung di Institut Pertanian Bogor, dan di2004 meraih Doktor
Ekonomi Pertanian. Pada 2005, beliau memperoleh anugerah dua Doctor Honoris
Causa, masing-masing dari almamaternya Webster University untuk ilmu hukum, dan
dari Thammasat University di Thailand ilmu politik. Serta SBY dikenal aktif
dalam berbagai organisasi masyarakat sipil. Beliau pernah menjabat sebagai
Co-Chairman of the Governing Board of the Partnership for the Governance Reform,
suatu upaya bersama Indonesia dan organisasi-organisasi internasional untuk
meningkatkan tata kepemerintahan di Indonesia.
Meskipun
SBY telah lama menyesuaikan diri dengan kepemimpinan sipil yang egaliter dan
demokratis tetapi budaya militer sebagai dasar pembentukan karakter
kepemimpinan SBY tidak bisa hilang begitu saja. Hal ini dapat kita lihat dari
beberapa contoh kasus gaya kepemimpinan militeristik SBY yang masih melekat,
seperti beberapa kali memarahi menterinya didepan umum, memarahi para bupati
dan walikota seluruh Indonesia yang tidur “takalok ” ketika SBY sedang
berpidato. Selain itu gaya militeristik SBY tergambar dari tindakan-tindakannya
SBY dalam pelaksanaan administrai negara yang formalitas dan kaku. Ini
merupakan salah satu karakteristik dari gaya kepemimpinan militeriktik yaitu
segala sesuatu bersifat formal. Terlihat dari pelaksanaan pemerintahan SBY yang
berjalan dengan prinsip bahwa segala sesuatunya sesuai dengan peraturan artinya
setiap pikiran baru harus bersabar untuk menunggu sampai peraturannya berubah
dulu, terobosan menjadi barang langka.
SBY DALAM TIPE KARISMATIK
SBY DALAM TIPE KARISMATIK
Karisma
adalah hal yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Semua pemimpin sebenarnya
dengan gampang bisa mempunyai karisma, tergantung caranya memimpin. Buat saya,
Pak SBY adalah orang yang berkarisma. Kharismanya bukan hanya tebar pesona atau
main yoyo tapi benar-benar diperhitungkan matang. Terus terang belum ada
pemimpin yang berkarisma seperti pak SBY pada saat ini. Dibandingkan dengan
calon-calon presiden yang akan datang, Karisma Pak SBY masih di atas mereka.
Pak SBY jelas memiliki kharisma yang berkarakter. Karakter seorang pemimpin
masa depan yang mampu memimpin rakyatnya dengan baik. Karisma beliau bukan
hanya tebar pesona seperti apa yang pernah disampaikan lawan politiknya.
Karisma yang ada dalam diri beliau adalah karisma yang telah menyatu karena
memiliki kepribadian yang unggul. Unggul dalam segala bidang. Baik bidang
ideologi, politik, ekonomi, budaya, sosial, ataupun pendidikan.
SBY DALAM TIPE
DEMOKRATIS
Menurut
saya, kepemimpinan SBY juga masuk dalam tipe demokratik mungkin disebabkan
karena tuntutan reformasi, situasi dan kondisi saat ini yang semakin liberal.
Dimana tipe pemimpin dengan gaya ini dalam mengambil keputusan selalu mengajak
beberapa perwakilan bawahan, namun keputusan tetap berada di tangannya. Selain
itu pemimpin yang demokratis berusaha mendengar berbagai pendapat, menghimpun
dan menganalisa pendapat-pendapat tersebut untuk kemudian mengambil keputusan
yang tepat. Tidak jarang hal ini menimbulkan persepsi bahwa SBY seorang yang
lambat dalam mengambil keputusan dan tidak jarang mengurangi tingkat
determinasi dalam mengambil keputusan. Pemimpin ini kadang tidak kokoh ketika
melaksanakan keputusan karena ia kadang goyah memperoleh begitu banyak masukan
dalam proses implementasi kebijakan.
Secara teoritis pemimpin tipe ini bisa menerima kritik, kritik dibalas pula dengan kontra kritik. Bukan menjadi rahasia lagi bila seringkali kita melihat dan mendengar bagaimana SBY melakukan kontra kritik terhadap orang-orang yang mengkritiknya. SBY percaya bahwa kebenaran hanya bisa diperoleh dari wacana publik yang melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. Selain itu tipe pemimpin ini dalam mengambil keputusan berorientasi pada orang, apresiasi tinggi pada staf dan sumbangan pemikiran dari manapun.
Secara teoritis pemimpin tipe ini bisa menerima kritik, kritik dibalas pula dengan kontra kritik. Bukan menjadi rahasia lagi bila seringkali kita melihat dan mendengar bagaimana SBY melakukan kontra kritik terhadap orang-orang yang mengkritiknya. SBY percaya bahwa kebenaran hanya bisa diperoleh dari wacana publik yang melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. Selain itu tipe pemimpin ini dalam mengambil keputusan berorientasi pada orang, apresiasi tinggi pada staf dan sumbangan pemikiran dari manapun.
Kesimpulannya
adalah bahwa setiap pemimpin tentu mengharapkan sesuatu yang terbaik untuk
masyarakat, bangsa dan negaranya. Begitupun dengan SBY yang mempunyai tipe
kepemimpinan yang lebih dari satu dan tidak hanya seperti yang sudah saya
jelaskan diatas tetapi lebih dari itu, seperti tipe sopportif, partisifatif,
instrumental dan yang lainnya, kesemuanya itu disesuaikan dengan situsi, dan
perkembangan zaman yang ada. Intinya setiap pemimpin selalu mengharapkan agar
wilayah yang dipimpinnya tersebut dapat tercipta suasana yang aman, tentram dan
damai sesuai dengan tujuan bersama.
·
GAYA KEPEMIMPINAN JOKO WIDODO
Jokowi
dikenal akan gaya kepemimpinannya yang pragmatis dan membumi. Ia seringkali
melakukan "blusukan" atau turun langsung ke lapangan untuk melihat
langsung permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat.
Ia
juga mendapat penghargaan internasional dari Kemitraan Pemerintahan Lokal
Demokratis Asia Tenggara (Delgosea) ini atas keberhasilan Solo melakukan
relokasi yang manusiawi dan pemberdayaan pedagang kaki lima, mendatangi langsung
warga dan mendengar keluh kesah mereka. Gaya yang unik ini dijuluki The New
York Times sebagai "demokrasi jalanan". Jokowi juga dianggap unik
dari pemimpin lainnya karena tidak sungkan untuk bertanya langsung kepada warga
dan mendekati mereka bila akan melancarkan suatu program. Namun, gaya ini juga
menuai kritik. Misalnya, ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman menyatakan
bahwa "blusukan" hanya menghabiskan waktu dan energi, sementara yang
dibutuhkan adalah kebijakan langsung dan bukan sekadar interaksi. Anies
Baswedan juga menilai "blusukan" merupakan pencitraan belaka tanpa
memberikan solusi.
Selain
"blusukan", kepemimpinan Jokowi juga dikenal akan transparansinya.
Misalnya, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sama-sama mengumumkan jumlah
gaji bulanan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kepada umum. Ia juga
memulai sejumlah program yang terkait dengan transparansi seperti Online tax,
e-budgeting, e-purchasing, dan cash management system. Selain itu, semua rapat
dan kegiatan yang dihadiri oleh Jokowi dan Basuki direkam dan diunggah ke akun
"Pemprov DKI" di YouTube.
Gaya
kepemimpinan Jokowi sebenarnya sangat bagus, yaitu dengan turun kelapangan
umtuk melihat langsung permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat.
Dengan cara ini permasalahan dapat segera teratasi karena kita dapat menanyakan
langsung kepada warga atau masyarakat sekitar apa permasalahan nya. Hal yang
paling bagus dengan gaya kempemimpinan Jokowi adalah transparansinya, yaitu
mempublikasikan semua informasi kepada masyarakat, sehingga masyarakat tahu
dana/anggaran digunakan untuk apa saja dan dapat meminimalisir terjadinya
korupsi. Namun gaya kepemimpinan dengan cara ini bukan tanpa kekurangan, karena
wilayah Indonesia sangat luas jadi sangat memakan biaya dan waktu, sehingga
pengambilan kebijakan apa yang harus dilakukan menjadi lama, karena harus turun
langsung kelapangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar